Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Beragam Kecenderungan Orang yang Bertarekat

Ilustrasi Suluk (Foto: pedomanbengkulu.com)
Ilustrasi Suluk (Foto: pedomanbengkulu.com)

ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪ ﺗَﺰْﻳِﻴْﻦٌ ﻟِﻈَﺎﻫِﺮِﻩِ ﺍﻟْﺠَﻠِﻲِّ
 ﺑِﺸَﺮِﻳْﻌَﺔٍ ﻟِﻴُﻨَﻮِّﺭَ ﻗَﻠْﺐ ﻣُﺠْﺘَﻠَﺎ

"Hendaknya seorang salik menghiasi lahiriahnya dengan syariat agar hatinya bercahaya"

ﻭَﺗَﺰُﻭْﻝَ ﻋَﻨْﻪُ ﻇُﻠْﻤَﺔٌ ﻛَﻲْ ﻳﻤْﻜﻨﺎ 
 ﻟِﻄَﺮِﻳْﻘَﺔٍ ﻓِﻲْ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﺃَﻥْ ﺗَﻨْﺰﻟَﺎ

"Kegelapan pun sirna dan tarekat pun bersemayam dalam hati" 

Ketika tarekat dan hakikat itu bergantung dengan syariat, maka menjadi wajib bagi seorang salik menghiasi hal lahiriahnya dengan syariat, agar hatinya tersinari syariat, juga agar kegelapan kemaksiatan lenyap darinya.

Kemaksiatan itu sejenis kegelapan yang memengaruhi hati, sebagaimana juga ketaatan adalah cahaya yang menerangi hati.

Konsistensi untuk menghiasi hal lahiriah dengan berpedoman pada syariat itu memang agar hati menjadi terang, dan sekaligus agar tak ada kegelapan. Karena memang cahaya ketaatan itu akan mampu menghapuskan kegelapan kemaksiatan. 

Hati itu ibarat raja, sedangkan jasad dan anggota tubuh adalah rakyatnya. Ketika hatinya bagus, maka bagus pula anggota badan lainnya. 

Dalam hal demikian, maka dimungkinkan telah bersemayam dalam hati suatu  tarekat.

ﻭَﻟِﻜُﻞِّ ﻭَﺍﺣِﺪِﻫِﻢْ ﻃَﺮِﻳْﻖٌ ﻣِﻦْ ﻃُﺮُﻕٍ 
 ﻳَﺨْﺘَﺎﺭُﻩُ ﻓَﻴَﻜُﻮْﻥُ ﻣِﻦْ ﺫَﺍ ﻭَﺍﺻِﻠَﺎ

"Mereka para ahli tasawuf, masing-masing punya tarekat yang dipilih untuk mengantarkannya menuju jalan terang"

ﻛَﺠُﻠُﻮْﺳِﻪِ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄَﻧَﺎﻡِ ﻣُﺮَﺑِّﻴًﺎ 
 ﻭَﻛَﻜَﺜْﺮَﺓِ ﺍﻟْﺄَﻭْﺭَﺍﺩِ ﻛَﺎﻟﺼَّﻮْﻡِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎ

"Ada yang duduk mengajar dan membimbing umat manusia, dan ada pula yang memperbanyak wirid atau tugas peribadahan, seperti puasa dan shalat" 

ﻭَﻛَﺨِﺪْﻣَﺔٍ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤﻞِ ﺍﻟْﺤَﻄَﺐ
 ﻟِﺘَﺼَﺪَّﻕَ ﺑِﻤﺤﺼّﻞٍ ﻣُﺘَﻤَﻮَّﻟَﺎ

"Sebagian lagi berkhidmah melayani kepentingan masyarakat, bahkan di antara mereka ada yang mencari kayu bakar dan menjualnya untuk disedekahkan kepada sesama" 

Demikianlah, metode atau jalan para ahli tasawuf untuk sampai (wushul) kepada Allah adalah beragam. Masing-masing punya kecenderungan dan pilihan. Di antaranya adalah:

(1) Duduk di hadapan murid atau masyarakat luas, mengajar dan membimbing beribadah, dan berakhlak mulia. Dalam hal ini Imam Ghazali berkata, "Barangsiapa mengetahui ilmu, mengamalkannya, juga mengajarkannya, maka dialah yang diseru sebagai orang yang mulia dalam kerajaan langit. Ia laksana matahari yang menyinari diri dan selainnya. 

(2) Memperbanyak wirid atau tugas peribadahan seperti shalat, puasa, membaca Qur'an, dan tasbih.

(3) Khidmah kepada para ahli fikih, ahli tasawuf, dan ahli agama. Karena termasuk ibadah dan membantu orang-orang Islam, maka hal ini lebih utama daripada melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Syekh Abdul Qadir al-Jilany menyatakan, "Bukanlah wushulku kepada Allah itu dengan shalat malam, dan puasa, melainkan saya wuhsul itu dengan sifat kedermaan, rendah hati, dan hati yang lapang."

(3) Memanggul kayu bakar, atau sejenisnya. Kemudian perolehannya dijual ke pasar dengan maksud untuk disedekahkan. Ini termasuk jenis ibadah yang bermanfaat.

*Ustadz Yusuf Suharto, pengurus Aswaja NU Center Jawa Timur