Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Belajar Ushul Fiqh ala Bucin

Cover Buku Belajar Ushul Fiqh Ala Bucin (Foto: diambil dari twitter.com/alfinrizalisme)
Cover Buku Belajar Ushul Fiqh Ala Bucin (Foto: diambil dari twitter.com/alfinrizalisme)

“Dik, mbok plis to ah, dipertimbangkan juga kaidah dar-ul mafasid muqaddamun itu, bahwa meninggalkan kemudharatan itu harus lebih diutamakan. Sikapmu ini mudharat buatku, Dik. Buat masa depan tresnaku. Itu harus didahulukan untuk ditinggalkan lho, Dik." Sederet kalimat itu terdapat dalam buku Belajar Mudah Kaidah Ushul Fiqh Ala Bucin di halaman 133.

Agak nyeleneh Edi AH Iyubenu, sang penulis buku yang pernah nyantri cukup lama di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang ini menuliskan kisah cinta remaja dalam bukunya menjadi sebuah contoh sebuah hukum islam. Pria yang melanjutkan studinya ke kota Jogja hingga S3 berusaha menyajikan lintasan pengenalan ilmu Ushul Fiqh dengan sederhana.

Setelah itu, penulis mengulas kaidah-kaidah Ushul Fiqh secara gamblang dan praktis. Tujuannya, untuk memudahkan siapa pun yang ingin memahaminya ataupun mempelajarinya lebih jauh.  Dengan pola demikian, diharapkan kaidah-kaidah Ushul Fiqh takkan lagi “seram” untuk dikenali, dipahami, dan dipelajari.

Buku yang ditulis Edi AH Iyubenu ini berisi 324 halaman yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi pengantar dan penjelas tentang ilmu ushul fiqh. Dan bagian kedua berisi sedikit pengenalan tentang kaidah-kaidah ushul fiqh, yang disusul dengan 53 kaidah-kaidah ushul fiqh dari kitab Al-Fawaid Al-Janiyah. Kitab yang menjadi materi silabus dalam mata kuliah ushul fiqh di fakultas syariah Universitas Al-Azhar, Kairo. Kitab ini adalah karangan Syaikh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani, ulama terkemuka pendiri Madrasah Dar Al-Ulum Al-Diniyah Mekah.

Sesuai dengan judulnya “Belajar Mudah Kaidah Ushul Fiqh ala Bucin”, buku ini menghadirkan kaidah-kaidah ushul fiqh yang tadinya sangat teoretis dan agak berat menjadi sangat aplikatif dalam kehidupan nyata. Dari covernya saja bisa dilihat buku ini sangat menarik bagi anak-anak muda terutama yang sedang dimabuk cinta. Penulis cukup pintar mengambil kata bucin yang dalam kamus bahasa anak muda diartikan sebagai budak cinta. Kata-kata tersebut terbilang cukup trending saat ini sehingga bukunya makin dilirik.

Pada pembahasan kaidah ushul fiqh, penulis menyajikan penjelasan singkat dan mudah. Lalu diberi contoh melalui kisah percintaan dua tokoh utama, yakni Cito dan Citi. Karena itu, kaidah ushul fiqh yang ada di buku ini terasa sederhana, mudah, gamblang, serta menyenangkan. Pembaca, khususnya anak muda dapat memahami dengan baik keseluruhan isi buku ini karena bahasa yang digunakan relate dengan kehidupan sehari-hari anak muda kebanyakan.

Sayangnya, di dalam daftar isi buku ini tak ditulis dengan jelas perincian kaidah ushul fiqih yang disebutkan. Penulis hanya memberi nomor terhadap setiap kaidah seperti, kaidah 1, kaidah 2, dan seterusnya. Penulis juga sering menyebutkan kosakata Bahasa Jawa tanpa diartikan kembali yang memungkinkan orang yang notabene bukan dari Jawa akan kebingungan mengartikan.

Di dalam buku ini, penulis menjelaskan tentang pelaksanaan metode ushul fiqh yang dibantu dengan kaidah-kaidah ushul fiqh. Kaidah-kaidah ushul fiqh ini bagaikan rumus-rumus baku yang jika dipahami dan dikuasai dengan baik akan sangat menbantu para pengkaji Hukum Islam dalam menyimpulkan Hukum-hukum Islam. terutama yang relatif sederhana, simpel, dan kecil (halaman 73).

Adanya kaidah-kaidah ushul fiqh tentu berdasar. Contohnya kaidah ushul fiqih Al-Masyaqat Tajlib At-Taysir yang berdasar pada penggalan ayat Al-Quran dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi,

...يريد الله بكم اليسرولا يريد بكم العسر... الاية.

Yang artinya, “Allah menghendaki kemudahan bagimu bukan kesukaran bagimu.”

Atau kaidah ushul fiqih Al-Umuru bi Maqasidiha yang berdasar pada penggalan hadis dari Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hadis tersebut berbunyi,

انما الاعمال باالنيات وانما لكل امرئ ما نوى...الحديث

Artinya adalah, “Sesungguhnya segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya segala yang dia lakukan tergantung niatnya.”

Dalam perkembangannya, kaidah-kaidah ushul fiqh ini bukan hanya menjadi sebuah rumus untuk membantu seorang ulama dalam menentukan sebuah hukum Islam atau materi pembelajaran ilmu keagamaan dalam pondok pesantren bagi para santri saja. Melainkan, dapat dijadikan sebuah sarana untuk mengungkapkan kondisi atau kisah seseorang yang terlalu mencintai pasangannya. Seperti yang coba disampaikan penulis dalam buku ini.

Penulis kini menjadi bos dari salah satu penerbitan mayor di Indonesia yang bertempat di Yogyakarta, yakni Diva Press. Buku karangannya pun telah mencapai lebih dari 50 lebih judul, mulai dari buku-buku keagamaan maupun sastra. Diantara buku-bukunya adalah, Berislam dengan Akal Sehat, Balada Cito Citi Gampang Sayang, Gampang Kangen dan masih banyak lagi lainnya.

Tak hanya berkecimpung di bidang literasi, ia juga melebarkan sayap bisnisnya ke pendirian kafe. Kafe dengan konsep ruang ekspresi, keilmuan, kebudayaan, dan kesusastraan ini telah berdiri lebih dari lima cabang di berbagai titik yang ada di Yogyakarta.

Judul: Belajar Mudah Kaidah Ushul Fiqh ala Bucin

Penulis: Edi AH Iyubenu

Penerbit: DIVA Press

Cetakan: Pertama, April 2020

Tebal: 324 halaman

ISBN: 978-602-391-972-7

Peresensi: Muhammad Ainul Irfan Maulana

Editor: Fitriana