Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Akhlaq Salaf (4) : Tidak Gila Jabatan, sebuah Pilihan

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh Ali Makhrus*

Jabatan merupakan nama lain sebuah kedudukan yang banyak diidam — idamkan oleh umat manusia, apalagi jabatan itu adalah top leader, kholifah, presiden, panglima dan sejenisnya. Di antara kita, umat Islam, banyak pelajaran dari para sahabat Nabi yang bisa kita pelajari dan teladani dalam hal menyikapi soal kepemimpinan (jabatan). Diantaranya adalah sahabat Abdurrahman bin Auf ra, salah satu dewan ahlul halli wal aqdi era Utsman ra.

Dari Juwairiyah binti Asma, dari Malik, dari Az — Zuhri dari Said diceritakan bahwa Saad bin Abi Waqosh mengutus seorang lelaki kepada Abdurrahman, yang ketika itu sedang berkhotbah. Ia berkata, “wahai Abdurrahman, tampillah di hadapan orang banyak”. Yang artinya, “ajaklah orang banyak untuk memilihmu. Abdurrahman menanggapi, “sungguh celaka dirimu, “Sesungguhnya, setiap orang yang menanggung jabatan ini setelah Umar bin Khottob ra, pasti akan dicela oleh banyak orang”.

Bersambung dengan riwayat di atas, dari riwayat lain diceritakan, dari Saad, dari Abdul Aziz al Uwaisi, dari Abdullah bin Jafar, dari Ummu Bakar, dari Ayahandanya Miswar, diriwayatkan bahwa ia berkata, “ketiak Abdurrahman bin Auf diberi mandate dalam Majlis Syura (dewan musyawarah pemilihan kholifah), beliau adalah orang yang paling kuidamkan untuk menduduki jabatan kholifah. Kalau beliau enggan, sebaiknya Saad. Tiba — tiba Amru bin Ash menjumpaiku dan berkata, apa kira — kira pandangan pamanmu, Abdurrahman bin Auf, kalu ia menyerahkan jabatan ini kepada orang itu ? Aku segera menemui Abdurrahman dan menceritakan kepadanya tentang pertanyaan itu (dari Amru bin Ash). Beliau lalu berkomentar, “seandainya ada orang yang meletakkan pisau dileherku lalu menusukkanya hingga tembus, itu lebih aku sukai daripada menerima jabatan tersebut”.

Bahkan ada riwayat lagi, sebagai kelanjutan dari sikap Abdurrahman bin Auf soal jabatan. Dari Ibnu Wahab meriwayatkan, dari Ibnu Lahiah, dari Yahya bin Said, dari Abu Ubaid bin Abdullah bin Abdurrahman bin Azhar, dari ayahandanya, dari kakeknya, diceritakan bahwa Utsman pernah mengeluh karena mimisan (keluar darah dari hidung), lalu beliau memangil Humran. Beliau berkata, “tuliskan mandate untuk Abdurrahman supaya menggantikan aku sepeninggalku nanti”.

Humran, segera menulis mandate itu, dan bergegas datang menemui Abdurrahman seraya berkata, “ada kabar gembira !” Abdurrahman bertanya, “ kabar apa itu ?”, Humran menjawab, “Utsman telah menuliskan mandate untuk anda sepeninggalnya”. Seketika Abdurrahman bin Auf berdiri di antara makam dan mimbar Rasulullah SAW, lalu berdoa, “Ya Allah, apabila penyerahan jabatan dari Utsman kepadaku benar — benar terjadi, maka matikanlah aku sebelum itu”.

Tak lebih enam bulan berselang setelah itu, Allah mencabut ruhnya.

Wallahu alamu bis showab.

(Kisah diambil dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaq as — Salaf oleh Abdul Aziz Nashir Jalil dan Bahaudin Fatih Aqil; alih bahasa, Ikhwanuddin; editor, Firman Ikhwan, Solo ; Aqwam, 2014) hal, 67, 68)

*Penulis adalah kader NU asal Madiun, Jawa Timur, yang sekarang menempuh pascasarjana di UIN Jakarta