Menu Click to open Menus
Home » Artikel - Hikmah » Upacara-upacara Ritual Dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Upacara-upacara Ritual Dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

(5289 Views) May 8, 2012 8:34 am | Published by | No comment

Maksud dari upacara-upacara ritual adalah beberapa kegiatan yang “disakralkan”, dan mempunyai tatacara tertentu (upacara dan prosesi yang khidmat), dan membutuhkan keterlibatan bersama antara murid dan mursyid.

Ada beberapa bentuk upacara ritual dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sebagai sebuah jam’iyyah.Yaitu; pembai’atan, khataman, dan manaqiban. Ketiga bentuk upacara ritual dalam tarekat ini dilaksanakan oleh semua kemursyidan yang ada di In¬donesia, dengan prosesi kurang lebih sama. Tapi dalam istilah (nama kegiatan) kadang berbeda, untuk menunjuk pada suatu kegiatan yang sama. Seperti pembai’atan, ada sementara kemursyidan menyebutnya dengan penal-qinan. Demikian pula khataman, ada yang menyebutnya dengan istilah tawajjuhan. Tetapi perbedaan itu sama sekali tidak membedakan isi dan makna kegiatan tersebut.

1. Pembai’atan
Upacara pemberian khirqah, atau pentasbihan seseorang untuk menjadi murid, atau pengikut, atau pengamal ajaran tarekat ini disebut dengan mubaya’ah, atau pentalqinan dzikr. Kedua istilah tersebut (bai’at dan talqin), dipergunakan dalam tarekat ini, dan populer di wilayah kemursyidan masing-masing.

Pembai’atan adalah sebuah prosesi perjanjian, antara seorang murid terhadap seorang mursyid. Seorang murid menyerahkan dirinya untuk dibina dan dibimbing dalam rangka membersihkan jiwanya, dan mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dan selanjutnya seorang mursyid menerimannya dengan mengajarkan dzikr talqin al-dzikr, kepadanya.
Upacara pembai’atan merupakan langkah awal yang harus dilalui oleh seorang salik, khususnya seorang yang memasuki jalan hidup kesufian melalui tarekat. Menurut para ahli tarekat “bai’at” merupakan syarat sahnya suatu’ perjalanan spiritual (suluk)) Sufi besar Abu Yazid al-Bustami, berkata, yang artinya kurang lebih:
“Barangsiapa yang tidak mempunyai guru , maka imamnya adalah setan”. Walaupun demikian ada juga beberapa sufi yang melakukan suluk tanpa pembai’atan formal seperti dalam tarekat. Maka mereka menerima bai’at secara berzakhi (oleh seorang wali besar yang sudah wafat, ataupun oleh Nabi sendiri). Mereka ini disebut dengan kaum uwaisiy (nisbat kepada Uwais al-Qarni). Misalnya al-Kharaqani yang melakukan suluk dengan bimbingan Abu Yazid al-Bustami dan al-Attar oleh arwah al-Hallaj.

Menurut Syekh Abu Hafas al-Surahwardi perubahan status hukum riyadat al-nafs (termasuk pengamalan dzikr), antara yang dibai’at dengan yang tidak dibai’at, adalah sebagaimana perubahan status hukum hasil buruan anjing, antara hasil buruan anjing yang diajar dengan hasil buruan anjing yang tidak diajar. Sedangkan mengambil khirqah atau bai’at itu diibaratkan menyalakan lampu (lampu hati), kemudian mengambil api dari lampu yang telah menyala. Harus dipilih lampu yang nyalanya paling terang, yaitu yang diperoleh dari “api suci Rasulullah” dengan jalan mutalaqqiyan (secara estafeta berasal dan bersambung dengan Rasulullah), melalui para syekh dan mursyid sebelumnya. Sehingga efek dan manfa’at dzikir terhadap perubahan akhlak dan sikap batin akan sangat berbeda antara yang dibai’atkan dengan yang tidak. Bahkan menurut para sufi, pengamalan kalimat tayyibah tahlil tidak dianggap sebagai dzikr, manakala tidak dibai’atkan oleh seorang mursyid yang sah. Tapi amalan tersebut hanya disebut sebagai tahlil, tidak dapat disebut sebagai dzikr? yang asror dan barokahnya sedikit.

Menurut ketetapan Jam’iyyah Ahli Tarekat al-Mu’tabarah al-Nahdiyyah, hukum dasar bai’at dzikr (tarekat) adalah al-sunnah al-Nabawiyah. Akan tetapi bisa menjadi wajib, apabila seseorang tidak dapat membersihkan jiwanya kecuali dengan bai’at itu. Dan bagi yang telah berbai’at, hukum mengamalkannya adalah wajib, berdasarkan firman Allah dalam QS. al-Isra’:34, yang artinya “Tepatilah janji, karena janji itu akan dipertanyakan.”

Bentuk pembai’atan itu ada dua macam. Kedua macam pembaiatan ini dipraktekkan dalam tarekat ini, yaitu pembai’atan fardiyyah (individual), dan pembai’atan jam’iyyah (kolektif). Baik bai’at secara individual maupun kolektif, keduanya dilaksanakan dalam rangka melestarikan tradisi Rasul. Di antara hadis yang dipergunakan dasar antara lain:

Prosesi pembai’atan dalam Tarekat Qadiriyah wa Nasqsyabandiyah biasanya dilaksanakan setelah calon murid mengetahui terlebih dahulu hal-ihwal tarekat tersebut, terutama menyangkut masalah kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakannya, termasuk tatacara berbai’at. Sehingga baru setelah merasa mantap, dan mampu seorang murid datang mengahadap mursyid untuk dibai’at.

Prosesi pembai’atan itu adalah sebagai berikut:
1. Dalam Keadaan suci, murid duduk menghadap mursyid dengan posisi duduk ‘aks tawarruk (kebalikan duduk tawarruk tasyahud akhir). Dengan penuh kekhusukan, taubat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada mursyid untuk dibimbing.
2. Selanjutnya mursyid membimbing murid untuk membaca kalimat berikut ini; Basmalah; Do’a yang artinya “Ya Allah bukakan untukku dengan keterbukaan para arifin” tujuh kali; Basmalah, hamdalah dan sholawat; Basmalah dan istighfar tiga kali; Sholawat tiga kali.
3. Kemudian syekh atau mursyid mengajarkan dzikr, dan selanjutnya murid menirukan: Laa ilaha illaa Allaah, tiga kali dan ditutup dengan ucapan Sayyiduna Muhammadun Shollallahu ‘alaihi wa sallam
4. Kemudian keduanya membaca shalawat munjiat.
5. Kemudian mursyid menuntun murid untuk membaca ayat bai’at: Surat al-fath ayat 10, dengan diawali ta’awud dan basmalah, yang artinya; “Aku berlindung kepada Allah, dari setan yang terku-tuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”
6. Kemudian berhadiah fatihah kepada: Rasulullah SAW. para masyayikh ahl silsila al-Qadiriyah wa Naqsya¬bandiyah, khsusunya syekh Abd. Qadir al-Jailani dan Syekh Abu al-Qasim Junaidi al-Bagdadi satu kali.
7. Kemudian syekh atau mursyid berdo’a untuk muridnya sekedarnya.
8. Selanjutnya mursyid memberikan tawajjuh kepada murid seribu kali, atau lebih.

Tawajjuh ini dilaksanakan dengan cara memejamkan kedua mata rapat-rapat, mulut juga ditutup rapat-rapat, dengan menyentuhkan lidah ke langit-langit mulut. Dan menyebut nama Allah (Allah, Allah) dalam hati 1000x, dengan dikonsentrasikan (difokuskan) ke arah sanubari murid. Demikian juga murid melaksanakan hal yang serupa, untuk dirinya.

Itulah prosesi pembai’atan yang merupakan pembai’atan atau talqin dua macam dzikr sekaligus, Yaitu dzikr nafi isbat (Qadiriyah), dan dzikr lathaif (Naqsyabandiyah). Baru pembai’atan selanjutnya yang beda hanya untuk dzikr lathaif saja, sampai tujuh kali. Dan pembai’atan untuk mengamalkan muraqabah dua puluh kali.

Dari segi prosesinya, pembai’atan yang ada dalam tarekat ini jelas berbeda dengan prosesi yang ada dalam tarekat induknya. Di dalam Tarekat Qadiriyah pembai’atan hanya untuk dzikr nafi isbat, dengan didahului shalat sunah dua rakaat, dan prosesi ijab qabul yang eksplisit, serta acara pemberian wasiat dan pesan-pesan untuk berlaku kesufian, oleh mursyid kepada mu¬rid yang menandai berakhirnya pembai’atan. Demikian juga prosesi tersebut berbeda dengan yang ada dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah.

Selain alasan-alasan “syar’i” tersebut, talqin dzikr (pembai’atan) juga dimaksudkan untuk memberikan tekanan psikologis bagi seseorang untuk senantiasa melaksanakan dzikr karena janji dan bai’atnya kepada mursyid, sehingga akhirnya dzikr menjadi bagian dari hidupnya. Ibarat pohon atau tanaman, dzikr (kalimat tayyibah), harus ditanamkan oleh seorang ahli yang berhak untuk itu, itulah mursyid. Jika dzikr yang ditanamkan oleh mursyid, terus menerus dirawat -dengan mengamalkannya- maka tumbuhlah ia menjadi pohon yang baik , akarnya menghunjam di tanah (fisik) dan cabang-cabangnya menjulang ke langit (hati sanubari). Dan senantiasa akan menghasilkan buah setiap saat.dan itu adalah pohon kepribadian dan akhlak yang mulia. (lihat QS. Ibrahim : 34).

2. Manaqiban
Upacara ritual yang menjadi tradisi dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang tidak kalah pentingnya adalah manaqiban. Selain memiliki aspek ceremonial manaqiban juga memiliki aspek mistikal. Sebenarnya kata manaqiban berasal dari kata manaqib (bahasa Arab), yang berarti biografi ditambah dengan akhiran: -an, menjadi manaqiban sebagai istilah yang berarti kegiatan pembacaan manaqib (biografi), syekh Abd. Qadir al-Jailani, pendiri Tarekat Qadiriyah, dan seorang wali yang sangat legendaris di Indonesia.

Isi kandungan kitab manaqib itu meliputi: silsila nasab syekh Abd. Qadir al-Jailani, sejarah hidupnya, akhlaq dan karamah-karamahnya, di samping adanya do’a-do’a bersajak (nadaman, bahr dan rajaz) yang bermuatan pujian dan tawassul melalui dirinya.

Pengakuan akan kekuatan magis dan mistis dalam ritual manaqiban ini karena adanya keyakinan bahwa syekh Abd. Qadir al-Jailani adalah qutb al-auliya’ yang sangat istimewa, yang dapat mendatangkan berkah (pengaruh mistis dan spiritual) dalam kehidupan seseorang. Hal ini dapat dipahami dalam sya’ir berikut:
“Para hamba Allah, dan para tokoh-tokohnya Allah, tolonglah kami karena kerelaan Allah. Jadilah Tuan semua penolong kami karena Allah, semoga dapat berhasil maksud kami, sebab keutamaan Allah. Semoga rahmat Allah atas yang mencukupi (nabi Muhammad), dan semoga keselamatan atas pemberi syafaat (Nabi Muhammad). Karena syekh Muhyiddin (Abd. Qadir) semoga engkau menyelamatkan kami, dari berbagai macam cobaan ya Allah”.

Tetapi dari sekian banyak muatan mistis dan legenda tentang syekh Abd. Qadir al-Jailani, yang paling dianggap istimewa dan diyakini memiliki berkah besar dalam upacara manaqiban adalah karena dalam kitab manaqib terdapat silsilah nasab syekh. Dengan membaca silsilah nasab ini seseorang akan mendapat berkah yang sangat banyak. Karena itu nasabnya itu dinazamkan sebagai berikut, yang artinya: “Nasab ini seakan-akan menjadi mataharinya waktu Dhuha, karena terangnya sebagai penyangga munculnya waktu pagi. Nasabnya (syekh) telah bersinar di wajah Adam, sehingga malaikat langit diperintahkan sujud kepadanya. Nasab ini dalam kitab Allah sebagai hujjah yang terkuat telah dipuji, maka barangsiapa yang sengaja ingkar pasti Kalah”.

Sehingga setelah nasabnya syekh dibaca, para masyayikh dan hadirin peserta manaqiban, semua menjawab dengan do’a, yang artinya, “Mudahkan setiap urusan kami dan maafkan kami, dari setiap duka, bala’ dan kemelaratan saya.”

Secara umum diterimanya upacara manaqiban ini oleh para Kiai di Jawa khususnya, karena di dalam manaqib disebut-sebut nama para Nabi dan orang-orang shaleh. Khususnya pada pribadi syekh sendiri. Sedangkan hal-hal tersebut diyakini sebagai suatu amal shaleh (kebaikan), berdasarkan sabda Nabi, “Mengingat para Nabi adalah termasuk ibadah, mengingat orang-orang shaleh adalah kafarat, mengingat kematian adalah shadaqah, dan mengingat kubur akan mendekatkan kalian ke
surga.” (HR. Imam Dailami).

Sedangkan manaqiban dalam tradisi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sebagai jam’iyyah merupakan kegiatan rutin. Ada yang menyelenggarakan pada acara mujahadah bersama setiap minggu, atau acara khataman dan tawajjuhan setiap bulan atau pada acara khaul Syekh Abd. Qadir al-Jailani yang jatuh pada tanggal 11 Rabi’ul tsani Karena Syekh wafat pada tanggal 11 Robi’ul Sani 561 H.

Tradisi pembacaan manaqib ini, dilaksanakan secara terpisah dan merupakan seremonial tersendiri. Tidak termasuk dalam kegiatan mujahadah, maupun khataman. Misalnya tradisi yang berlaku dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah untuk kemursyidan Suryalaya. Manaqiban ini diadakan rutin setiap bulan sekali, dengan tertib acaranya sebagai berikut; pembacaan ayat suci Alquran, pembacaan tanbih, pembacaan tawassul, pembacaan manaqib, ceramah agama, dan penutup.

3. Khataman
Kegiatan ini merupakan upacara ritual yang biasanya dilaksanakan secara rutin di semua cabang kemursyidan. Ada yang menyelenggarakan sebagai kegiatan mingguan, tetapi banyak juga yang menyelenggarakan kegiatannya sebagai kegiatan bulanan, dan selapanan (36 hari).

Walaupun ada sementara kemursyidan yang menamakan kegiatan ini dengan istilah lain, yaitu tawajjuhan, atau khususiyah, tetapi pada dasarnya sama, yaitu pembacaan ratib atau aurad khataman tarekat ini.
Dari segi tujuannya, khataman merupakan kegiatan individual, yakni amalan tertentu yang harus dikerjakan oleh seorang murid yang telah mengkhatamkan tarbiyat Dzikr lathaif. Dan khataman sebagai suatu ritus (upacara sakral) dilakukan dalam rangka tasyakuran atas keberhasilan seorang murid dalam melaksanakan sejumlah beban dan kewajiban dalam semua tingkatan Dzikr lathaif.

Tetapi dalam prakteknya khataman merupakan upacara ritual yang “resmi” lengkap dan rutin, sekalipun mungkin tidak ada yang sedang syukuran khataman. Kegiatan khataman ini dipimpin langsung oleh mursyid atau asisten mursyid (khalifah kubra). Sehingga forum khataman sekaligus berfungsi sebagai forum tawajjuh, serta silaturrahmi antara para ikhwan.

Kegiatan khataman ini biasanya juga disebut mujahadah, karena memang upacara dan kegiatan ini memang dimaksudkan untuk mujahadah (bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas spiritual para salik), baik dengan melakukan dzikr dan wirid, maupun dengan pengajian dan bimbingan ruhaniyah oleh mursyid.

Proses khataman biasanya dilaksanakan dengan dipimpin oleh mursyid atau asisten se¬nior (khalifah kubra), dalam posisi duduk berjama’ah setengah lingkaran, atau berbaris sebagaimana shaf-shafnya jama’ah shalat, maka mulailah membaca bacaan-bacaan sebagai berikut:
1. Al-Fatihah, kehadirat Nabi, beserta keluarga dan sahabatnya.
2. Al-Fatihah, untuk para nabi dan rasul, para malaikat al-muqarrabin, para suhada’, para salihin, setiap keluarga, setiap sahabat dan kepada arwah bapak kita Adam, dan ibu kita Hawa’, dan semua keturunan dari keduanya sampai hari kiamat.
3. Al-Fatihah, kepada arwahnya para tuan kita imam kita: Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Semua sahabat-sahabat awal, dan akhir, para tabi’in, tabi’it tabi’in dan semua yang mengikuti kebaikan mereka sampai hari kiamat.
4. Al-Fatihah, untuk arwah para imam mujtahid dan para pengikutnya, para ulama’ dan pembimbing, para qari’ yang ikhlas, para imam hadis, mufassir, semua tokoh-tokoh sufi yang ahli tarekat, para wali baik laki-laki maupun perempuan. Kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia.
5. Al-Fatihah, untuk semua arwah semua syekh Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, khususnya tuan syekh rajanya para wali, yaitu syekh Abd. Qadir al-Jailani, dan Abu Qasim Junaidi al-Baghdadi, Sirri Saqati, Ma’ruf al-Karakhi, Sayyid Habib al-A’jami, Hasan Basri, Sayyid Ja’far Sadiq, Sayyid Abu Yazid al-Bustami, Sayid Yusuf al-Hamadani, Sayyid Bahauddin al-Naqsyabandi, hadrat Imam al-Rabbani (al-Sirhindi), berikut nenek moyang dan keturunan mereka ahli silsilat mereka dan orang yang mengambil ilmu dari mereka.
6. Al-Fatihah, kepada arwah orang tua kita dan syekh-syekh kita, keluarga kita yang telah mati, orang yang berbuat baik kepada kita, dan orang yang mempunyai hak dari kita, orang yang mewasiati kita, dan orang kita wasiati, serta orang yang mendo’akan baik kepada kita.
7. Al-Fatihah, kepada arwah semua mukminin-mukminat, muslimin-muslimat yang masih hidup maupun yang sudah mati, dibelahan barat dunia maupun di belahan timur. Di belahan kanan dan kiri dunia, dan dari semua penjuru dunia, semua keturunan Nabi Adam, sampai hari kiamat. Kemudian secara bersama-sama membaca bacaan kalimat-kalimat suci, khusus.

Selanjutnya berhenti sejenak (tawajjuh) menghadapkan hati kehadirat Tuhan yang maha Agung seraya merendahkan diri serendah-rendahnya, di bawah serendah-serendahnya mahkluk, karena sifat kurang dan sifat, serta perbuatan yang jelek yang lainnya. Kemudian memohon pertolonganNya, agar dapat menjalankan perkara yang baik dan meninggalkan perbuatan yang jelek, memohon tambahnya rizki yang baik, manfaat dan berkah di dunia dan akhirat. Memohon untuk diri dan semua keluarganya agar dapat istiqamah dalam bertaqwa kepada-Nya dan istiqamah dalam menjalankan tarekat ini dan syari’at rasul serta diberi karunia husnul khatimah.

Kemudian membaca lanjutan ratib kalimat suci dan do’a khataman sebagai tanda selesainya acara khataman, selanjutnya khataman ditutup dengan mushofahah (bersalaman) keliling kepada mursyid sebagai sentral pimpinan dan guru pembimbing dilanjutkan kepada semua hadirin secara bersambung.

Ditulis Oleh: Dr. KH. Kharisudin Aqib, al-Mursyid (Pengasuh Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Kab.Nganjuk, Dekan Fak. Adab IAIN Sunan Ampel dan Mursyid Thariqah qadiriyah wa Naqsyabandiyah)

Categorised in:

No comment for Upacara-upacara Ritual Dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Leave a Reply