Tahlilan dan Yasinan

Tahlilan dan Yasinan

Tahlilan dan Yasinan adalah SUNNAH

Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari kata dasar :
هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا
yg berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم

“Dari Abu Dzar rodliallohu ‘anhu, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: “Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yg dilakukan seseorang dari sholat Dhuha.” (HR. Muslim).

Sedangkan kata yasinan adalah acara membaca surat yasin yg biasanya juga dirangkai dengan tahlilan. Di kalangan masyarakat Indonesia istilah tahlilan dan yasinan populer digunakan untuk menyebut sebuah acara dzikir bersama, doa bersama, atau majlis dzikir. Singkatnya, acara tahlilan, dzikir bersama, majlis dzikir, atau doa bersama adalah ungkapan yg berbeda untuk menyebut suatu kegiatan yg sama, yaitu: kegiatan individual atau berkelompok untuk berdzikir kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Pada hakikatnya tahlilan/yasinan adalah bagian dari dzikir kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

2. Dalil-dalil Tentang Dzikir Secara Bersama-sama

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ مُعَاوِيَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ ؟. قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا. قَالَ: آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ. قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ . رواه أحمد و مسلم و الترمذي و النسائي

“Dari Abu Sa’id al-Khudriy rodliallohu ‘anhu, Mu’awiyah berkata, ‘Sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menuju halaqoh (perkumpulan) para sahabatnya, beliau bertanya: “Kenapa kalian duduk di sini?” Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berdzikir kepada Alloh dan memuji-Nya sebagaimana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Alloh dengan Islam untuk kami”. Nabi bertanya, “Demi Alloh, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?”. Jawab mereka: “Demi Alloh, kami tidak duduk kecuali hanya untuk ini”. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Alloh ‘Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat”. (HR. Ahmad, Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama yg dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstui oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi Nabi juga memujinya, karena pada saat yg sama Malaikat Jibril memberi kabar bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla membanggakan kreatifitas dzikir bersama yg dilakukan para sahabat ini kepada para malaikat.
Sekarang marilah kita perhatikan hadits berikut ini

عَنِ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. رواه مسلم

“Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairoh dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

ﻻيقعد قوم يذكرون الله اﻻ خفتهم المﻻئكة وغشيهم الرحمة ونزل عليهم السكينة وذكر الله فيمن عنده. روه مسلم

“Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat Alloh mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Alloh menyebut mereka dalam golongan orang yg ada disisi-Nya”. (HR Muslim)

Masih banyak lagi hadts-hadist shohih yg menjelaskan tentang ke utamaan dzikir berjama’ah.

3. Dasar-dasar Bacaan Yang Ada Dalam Yasinan dan Tahlilan

Seluruh bacaan dan dzikir yg kita baca dalam acara yasinan dan tahlilan semua mengandung ke utamaan2, dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri menyuruh kita untuk membacanya.
Bacaan2 yg selalu dibaca dalam acara tahlilan yaitu:

1. Membaca Surat Al-Fatihah.
Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam “Dari Abu Sa`id Al-Mu’alla rodliallohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku,

“لأعلمنك أعظم سورة في القرآن قبل أن تخرج من المسجد… إلى أن قال له: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) هي السبع المثاني، والقرآن العظيم الذي أوتيته” .رواه البخاري وغيره.

“Maukah aku ajarkan kepadamu surat yg paling agung dalam Al-Qur’an, sebelum engkau keluar dari masjid?”. Maka Rasululloh memegang tanganku. Dan ketika kami hendak keluar, aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yg paling agung dalam Al-Qur’an”. Beliau menjawab: “Al-Hamdu Lillahi Rabbil-Alamiin (Surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh surat yg diulang-ulang (dibaca pada setiap sholat), ia adalah Al-Qur’an yg agung yg diberikan kepadaku”.
(HR. Bukhari).

2. Membaca Surat Yasin.
Dari Abu Hurairoh rodliallohu ‘anhu., ia berkata: “Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yg didalamnya diterangkan masalah Ad-Dukhon (Surat Ad-Dukhon), maka paginya ia mendapat mengampunan”. (HR. Abu Ya’la dengan sanad hasan/Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, dari Ma’qil bin Yasaar rodliallohu ‘anhu, ia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari Ma’qil bin Yasar rodliallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surat Al-Baqoroh adalah puncak Al-Qur’an, 80 malaikat menyertai diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah ‘Arsy, kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqoroh. Dan Surat Yaasiin adalah jantung Al-Qur’an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan Alloh Tabaroka wa Ta’ala dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia diampuni dosa2nya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang2 mati kalian”. (HR. Ahmad)

3. Membaca Surat Al-Ikhlash.
Dari Abu Said Al-Khudriy rodliallohu ‘anhu, ia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: “Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?”. Maka mereka merasa berat dan berkata: “Siapakah di antara kami yg mampu melakukan itu, wahai Rosululloh?”. Jawab beliau: “Ayat Allohu Al-Waahid Ash-Shamad (Surat Al-Ikhlash maksudnya), adalah sepertiga Al-Qur’an” (HR. Bukhari).

Imam Ahmad meriwayatkan:

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang membaca Qul huwallohu Ahad (Surat Al-Ikhlash). Maka beliau bersabda: “Pasti”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, apa yg pasti?”. Jawab beliau: “Ia pasti masuk surga”.  (HR. Ahmad).

4. Membaca Surat Al-Falaq

5. Membaca Surat An-Naas
Dari Aisyah radliallohu ‘anha, “bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bila merasa sakit beliau membaca sendiri Al-Mu`awwidzaat (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas), kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yg membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan dari surat2 tersebut”.
(HR. Bukhari).

6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5

7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163

8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)

9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.
Dari Abdulloh bin Mas’ud rodliallohu ‘anhu, ia berkata: “Barangsiapa membaca 10 ayat dari Surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka setan tidak masuk rumah itu pada malam itu sampai pagi, Yaitu 4 ayat pembukaan dari Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat terakhir yg dimulai lillahi maa fis-samaawaati..)” (HR. Ibnu Majah).

10. Membaca Istighfar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (QS. Huud: 3)

Dari Abu Hurairoh rodliallohu ‘anhu : Aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Alloh! Sungguh aku beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam sehari”. (HR. Bukhari).

Dari Al-Aghor bin Yasar Al-Muzani rodliallohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Alloh. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari”. (HR. Muslim).

11. Membaca Tahlil : لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ

12. Membaca Takbir : اَللهُ أَكْبَرُ

13. Membaca Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ

14. Membaca Tahmid : الْحَمْدُ للهِ
Dari Jabir bin Abdulloh rodliallohu ‘anhumaa, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik Dzikir adalah ucapan Laa ilaaha illa-Llah, dan sebaik-baik doa adalah ucapan Al-Hamdi li-Llah”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dari Abu Hurairoh rodliallohu ‘anhu, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كليمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان على الميزان حبيبتان الى الرحمن، سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم

“Ada dua kalimat yg ringan di lidah, berat dalam timbangan kebaikan dan disukai oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallohi ‘Adziim”.( HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم

Dari Abu Dzar rodliallohu ‘anhu, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: “Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yg dilakukan seseorang dari sholat Dhuha.” (HR Muslim).
Demikianlah dalil2 yg biasa dipakai sebagai dasar dilaksanakanya amal tahlilan dan yasinan oleh kaum muslimin yg mendukung tahlilan dan yasinan. Wallohu a’lam bis-Showab.

About Author