Menu Click to open Menus
Home » Artikel - Hikmah » Ritual dan Kultural Sholawat Nabi

Ritual dan Kultural Sholawat Nabi

(131 Views) November 20, 2017 8:03 am | Published by | No comment

Oleh: Nine Adien Maulana*

Salah satu ajaran Islam yang menurut saya sangat populer di kalangan masyarakat Jawa adalah membaca shalawat nabi. Setiap saya pamit bebepergian jauh, orang tua saya senantiasa mengingatkan agar memperbanyak membaca shalawat selama dalam perjalanan. Ternyata tidak hanya orang tua saya saja yang berpesan hal itu. Saya juga sering menjumpai hal ini pada orang lain.

Saya juga menemukan bentuk-bentuk ritual pembacaan shalawat Nabi Muhammad SAW. Ada tradisi pembacaan kitab ad-Diba’iy, al-Barzanji, Simthud Durar, Dalailul Khairat, dan lain-lain. Ada lagi bukti lagi yaitu dibacanya shalawat Nabi pada acara aqiqah, potong rambut bayi dan khitanan. Tidak hanya itu, pada saat mempertemukan pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan, bacaan shalawat Nabi ini jarang ditinggalkan. Biasanya pembacaannya disertai dengan irama rebana yang dipukul bertalu-talu.

Ada lagi budaya unik membaca shalawat Nabi. Dalam setiap acara hajatan, meskipun acara telah selesai, para tamu undangan tidak akan beranjak meninggalkan tempat acara sebelum dibacakannya,allaahumma shaalli ‘alaa sayyidinaa muhammad. Setelah shalawat dibacakan dengan keras oleh sang imam acara, maka secara serentak mereka pun beranjak meninggalkan tempat acara.

Dengan sedikit bergurau saya mengatakan kepada teman-teman bahwa tenyata shalawat itu pada masyarakat Jawa memiliki dua makna, yaitu makna ritual dan makna kultural. Sebagai makna ritual, shalawat dipahami sebagai salah satu do’a untuk Rasulullah SAW yang juga meluberkan barokah kepada pembacanya. Sebagai makna kultural shalawat dipahami sebagai penutup acara dan pembubar jama’ah.

Ada kasus menarik di dusun saya. Dusun saya memang menjadi pusat jama’ah salah satu ormas yang tidak suka dengan ritus dan kultur shalawat semacam itu. Alasannya klasik, yakni dianggap mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW, alias bid’ah. Padahal, sebelum adanya ormas tadi ritus dan kultur shalawat telah ada di sana.

Suatu waktu, warga dusun diundang dalam suatu acara yang diselenggarakan oleh salah satu jama’ah ormas tersebut. Setelah seluruh rangkaian acara selesai, dan MC sudah menutupnya dengan mengucap salam, ternyata seluruh tamu tetap saja tidak beranjak dari tempat duduknya. Sang MC pun tampak salah tingkah dan kebingungan. Akhirnya, dengan bahasa basa-basi MC pun berkata, Karena acara telah selesai, maka kami persilahkan bila Bapak-bapak jika menghendaki pulang atau tetap tetap berada di sini. Baru setelah itu, semua tamu bubar.

Di lain kesempatan hal seperti itu pun terjadi berulang-ulang, sehingga membuat tamu undangan tidak nyaman. Tanpa menunggu basa-basi MC, salah seorang tamu undangan yang agak pemberani langsung membaca allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammad dengan keras. Serentak para tamu menjawab allahhuma shalli ‘alaih … dan langsung beranjak meninggalkan tempat.

Dari kejadian-kejadian seperti ini, akhirnya mereka pun menyesuaikan diri. Setiap kali mereka mengakhiri acara dan bermaksud membubarkan jama’ah, maka mereka pun dengan percaya diri ikut membaca bacaan shalawat sebagaimana pada umumnya.

Mengapa shalawat menjadi sangat populer di kalangan akar rumput masyarakat Jawa? Tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan jasa para pendakwah terdahulu. Secara sederhana kita bisa menduga bahwa mereka adalah termasuk orang-orang yang suka dengan ritus pembacaan shalawat dan mendakwahkannya kepada masyarakat Jawa.

Lebih hebat lagi, mereka mampu memasukkan ajaran Islam dalam budaya masyarakat, sehingga ajaran Islam itu dapat diterima tanpa penuh kecurigaan. Bahkan, keduanya tampak berinteraksi secara mutual. Masyarakat menerimanya tanpa terjadi keterkejutan budaya (cultural shock). Ini adalah prestasi yang patut kita apresiasi dan teladani.

Shalawat dalam bentuk budaya memang telah marak di tanah Jawa, lalu bagaimanakah sebenarnya shalawat itu jika ditinjau dari ajarannya? Dalam QS. Al-Ahzab [33]: 56 Allah SWT berfirman yang artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Shalawat Allah SWT kepada Muhammad, berarti Allah SWT memberi berkah, penghargaan, dan menempatkan Rasulullah SAW yang mulia disisi-Nya. Shalawat Malaikat kepada Nabi Muhammad SAW adalah memberi salam penghormatan atas diangkatnya kemuliaan dan kerasulan Muhammad SAW, sebagaimana penghormatan malaikat kepada Nabi Adam AS.

Dikarenakan Allah SWT selalu memberikan shalawat (keberkatan, kemuliaan, kebesaran), maka umat Muhammad sudah selayaknya mengharapkan agar shalawat Allah itu tetap langgeng untuk beliau dan keluarganya. Kalau kita jujur, sebenarnya shalawat kita itu tidak ngefek bagi Nabi Muhammad SAW, karena beliau telah mendapatkan curahan rahmat dan keberkatan itu langsung dari Allah SWT selamanya.

Kalau demikian adanya mengapa kita bershalawat kepadanya? Bagi orang yang berkenan menerima konsep Nur Muhammad dalam paham kosmologinya, maka Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai sentral semesta fisik dan metafisik. Seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung.

Dengan bershalawat, kita bersyukur terhadap segala jasanya yang menuntun kita pada jalan kebenaran seperti yang termuat dalam QS. al-Ahzab [33]: 43 Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Selain itu bershalawat juga mendidik kita agar selalu bersikap rendah diri dan tidak mengandalkan amal perbuatan untuk meraih surga karena masuknya hamba ke dalam surga dikarenakan rahmat-Nya, bukan akibat perbuatannya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Umar ibn Khattab bahwa nabi Adam ketika bertaubat setelah melanggar perintah Allah, taubatnya tidak langsung diterima. Namun, setelah ber-tawassul dengan nama Muhammad, doa dan taubatnya dikabulkan oleh Allah SWT. Allah SWT kemudian berfirman: “Kalau saja tidak karena Muhammad, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”

Dengan demikian, bershalawat dan bersalam merupakan bentuk lain dari proses menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah SWT. Karena Nabi Muhammad SAW adalah manusia paripurna, maka segala doa dan upaya untuk mencintainya, pada hakikatnya kembali kepada orang yang mendoakan.

Bershalawat dan bersalam kepada beliau, juga ibarat menuangkan air ke dalam gelas yang sudah penuh air. Pasti air tersebut akan tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, yakni tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui ‘gelas emas’ Kekasih-Nya, Muhammad SAW.¬†Inilah diantara alasan mengapa shalawat menjadi sangat populer bagi umat Islam khususnya di bumi Nusantara ini.

 

*Penulis adalah Ketua PRNU Pacarpeluk, Jombang dan Guru PAI SMA Negeri 2 Jombang.

Categorised in:

Comment Closed: Ritual dan Kultural Sholawat Nabi

Sorry, comment are closed for this post.