Refleksi Shalat; Terdapat Akhlak Manusia sebagai Hamba dalam Shalat

Refleksi Shalat; Terdapat Akhlak Manusia sebagai Hamba dalam Shalat

Oleh: Aang Fatihul Islam*

Shalat merupakan ibadah yang menjadi instrumen dalam mengkomunikasikan fithrahnya seorang hamba kepada Allah. Kita sebagai umat Islam melaksanakan shalat wajib lima kali sehari. Belum lagi ditambah dengan sholat-sholat sunah, baik qobliyah dan badiyah, serta sholat-sholat sunah lainnya. Akan tetapi tanpa kita sadari bahwa di dalam sholat sebenarnya terdapat ajaran tentang akhlak bagaimana memposisikan diri kita sebagai hamba Allah yang Maha Agung.

Secara hakiki aktifitas sholat mengaplikasikan makna dari Surat Al-fatihah ayat lima yakni Iyyaka Nabudu Wa Iyyaka Nastaiin yang berarti ‘Hanya kepada-Mu lah kami menyambah dan hanya kepada-Mu lah kami minta pertolongan. Secara hakiki ayat tersebut mengajarkan kita tentang akhlak sebagai seorang hamba Allah bahwa sebelum kita meminta kepada Allah melalui doa seyogyanya kita menunaikan kewajiban kita sebagi hamba yakni menyembah-Nya.

Coba kita perhatikan bacaan dalam sholat dari ruku sampai duduk iftirosy mengejahwentahkan hakikat konsepsi Iyyaka Nabudu Wa Iyyaka Nastaiin. Pada saat kita ruku kita hakikatnya sedang menerapkan konsep Iyyaka Nabudu kemudian dilanjutkan Itidal perhatikan bacaannya maka kita akan sadar bahwa kita sedang menerapkan konsepsi Iyyaka Nastaiin. Begitu juga saat kita sujud kita hakikatnya sedang menerapkan konsep Iyyaka Nabudu dan pada saat duduk iftirosy kita juga hakikatnya sedang menarapkan hakikat konsepsi Iyyaka Nastaiin. Mengapa begitu? Karena sebenarnya secara tidak langsung lewat sholat Allah sedang mengajak berkomunikasi hamba-hamba-Nya. Akan tetapi sebagai seorang hamba kita seringkali lupa bahwa Tuhan tidak pernah membatasi permintaan hamba-Nya, bahkan Tuhan senang ketika hamba-Nya meminta dan berdoa kepada-Nya berbeda dengan manusia yang kebanyakan berbalik. Namun secara tidak langsung Tuhan juga meminta hamba-Nya agar belajar akhlak lewat refleksi shalat sebagaimana sebelum kita meminta hak kita harus memenuhi kewajiban kita dulu. Kewajiban kita sebagai hamba adalah menyembah Allah dan hak kita sebagai hamba adalah berdoa (meminta).

Kalau kita bawa pada samudra kehidupan yang nyata di luar konteks sholat, hakikatnya kita juga harus memenuhi konsepsi hakikat Iyyaka Nabudu Wa Iyyaka Nastaiin’, yakni medahulukan kewajiban baru menerima hak. Hal ini sebagaimana contoh kalau kita ingin pandai ya harus belajar yang sungguh-sungguh, kalau kita ingin sukses ya harus berusaha secara istiqomah tanpa putus asa. Apakah tidak lucu ketika ada orang yang tidak mau belajar denagn sungguh-sungguh tapi bersikeras ingin pandai, begitu juga akan nampak aneh jika orang yang tidak mau berusaha secara istiqomah tanpa mengenal lelah tapi bersikeras ingin sukses ini kan sama saja dengan tidak punya akhlak. Sama halnya apakah tidak aneh ketika kita enggan menyembah Allah akan tetapi kita sangat berambisi meminta segala sesuatu kepada Allah. Sama halnya kita menuntut hak tanpa menjalankan kewajiban. Meskipun Allah tidak butuh disembah dan tidak mempengaruhi sisi ke-Tuhanan sedikitpun meskipun andai orang sedunia tidak menyembah-Nya, namun akhlak kita sebagai hamba yang penuh nista dan khilaf seyogyanya punya akhlak kepada Allah SWT dengan mendahulukan kewajiban menyambah-Nya sebelum kita berdoa (meminta) kepada-Nya. Semoga kita bisa belajar memahami hakikat sebagai seorang hamba dari refleksi Sholat kita. Aamiin.

 

*Ketua PC LDNU Jombang dan Ketua Lingkar Studi Santri

Categories: Artikel - Hikmah

About Author