Pendapat Ibn Taimiyyah Tentang Maulid Nabawi

Pendapat Ibn Taimiyyah Tentang Maulid Nabawi

Ibn Taimiyah berkata:
“Terkadang seseorang diberi pahala karena mengadakan (mengikuti acara) Maulid Nabawi. Begitu pula (format) Maulid Nabawi yang dikreasikan oleh mereka (terkadang juga berpahala). (Hal itu bisa terjadi) adakalanya karena mengimbangi orang-orang Kristen dalam memperingati hari kelahiran Nabi Isa As, dan adakalanya karena unsur mencintai dan mengagungkan Nabi Saw. Maka Allah terkadang memberi pahala atas perasaan cinta dan kesungguhan (dalam mengagungkannya) ini, bukan karena bid’ahnya.”

Lalu ia berkata:
“Ketahuilah, sungguh dari beberapa amal itu ada yang di dalamnya terdapat kebaikan karena mengandung bermacam-macam perkara yang disyariatkan, dan sekaligus mengandung keburukan berupa bid’ah dan selainnya. Maka amal semacam itu merupakan amal jelek dengan memmpertimbangkan penyelewengannya dari agama secara total, seperti kondisi orang-orang munafik dan orang-orang fasik. Hal ini benar-benar telah menjadi wabah bagi mayoritas umat di masa-masa belakangan ini. Maka anda harus berpegang pada dua prinsip:

Pertama, kesemangatan Anda adalah berpegang pada sunnah secara lahir dan batin, khususnya bagi Anda, orang-orang yang mentaati Anda dan orang yang mengenal kebaikan serta mengingkari kemungkaran.

Kedua, ajaklah orang lain untuk mengikuti sunnah semampunya. Bila Anda melihat orang yang melakukan amal (yang mengandung kebaikan dan sekaligus keburukan) ini, dan dia tidak akan meninggalkannya kecuali akan melakuakn amal yang lebih buruk darinya, maka Anda jangan mengajaknya untuk meninggalkan kemungkaran tersebut dengan melakukan perkara yang lebih mungkar darinya, atau dengan meninggalkan perkara wajib atau sunnah yang bahaya meninggalkannya lebih besar dari pada melakukan amal tadi yang dimakruhkan.

Namun, bila dalam suatu bid’ah terdapat semacam kebaikan, maka gantilah dengan kebaikan yang disyari’atkan semampunya. Sebab, manusia tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali dengan (melakukan) sesuatu yang lain. Tidak semestinya seseorang meninggalkan kebaikan kecuali beralih pada kebaikan yang sederajat atau yang lebih baik darinya.”

Lantas ia berkata:
“Maka mengagungkan Maulid Nabawi dan menjadikannya sebagai rutinitas musiman telah sering dilakukan oleh sebagian orang, dan ia akan mendapatkan pahala karena tujuan baiknya dan pengagungannya terhadap Rasulullah Saw, seperti yang telah saya jelaskan kepada Anda, bahwa kejelekan seorang mukmin yang lurus akan menjadi kebajikan bagi sebagian orang. Sebab itu, pernah dilaporkan kepada Imam Ahmad tentang seorang oknum pejabat pemerintahan yang membelanjakan harta 1000 dinar dan semisalnya untuk menghias mushaf al-Qur`an secara bermegah-megahan.

Lalu beliau berkata:
“Biarkan dia. Sebab ini merupakan pembelanjaan emas terbaiknya” atau seperti yang beliau katakan.” Padahal madzhab beliau menyatakan, bahwa hukum menghias mushaf al-Qur`an secara bermegah-megahan adalah makruh. Sebagian Ashab menta’wil kasus ini (dengan pemahaman bahwa) oknum pejabat pemerintahan tersebut membelanjakannya untuk memperbarui kertas dan tulisan (al-Qur’an), sedangkan maksud Imam Ahmad sendiri tidak begitu. Namun, maksud beliau adalah dalam tindakan oknum tersebut terdapat kemaslahatan dan sekaligus mafsadah (kerusakan) yang karenanya beliau membencinya.”

Dari kitab: Haul Ihtifal Bi Dzikro Maulid Nabi Muhammad SAW, Sayyid Muhammad Alawi al Maliki

About Author