Pelopor Pertama Maulid Nabi

Pelopor Pertama Maulid Nabi

Orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabawi adalah orang yang diperingati sendiri, yaitu Nabi Muhammad Saw. Seperti disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim:

لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الاثْنَيْنِ، قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

Saat Nabi Muhammad Saw ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: “Hari itu adalah hari diriku dilahirkan.

Hadits ini merupakan nash yang paling shahih dan paling jelas tentang disyariatkannya perayaan Maulid Nabawi, serta tidak perlu peduli pendapat orang yang menyatakan:

“Sungguh yang pertama kali merayakan Maulid Nabawi adalah Dinasti Fathimiyah.[1]

Sebab, pendapat ini merupakan ketidaktahuan dan menutup mata dari kebenaran.

Pendapat Ibn Hajar al-‘Asqalani

Al-Imam al-Hafizh Abu Fadhl Ahmad bin Hajar al-‘Asqalani berkata:

“Dan telah jelas bagiku takhrij (hadits) Maulid Nabawi atas dalil yang legal, yaitu hadits dalam ash-Shahihain:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَسَأَلَهُمْ، فَقَالُوا: هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى فِيهِ مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلهِ تَعَالَى، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ

“Sungguh Nabi Muhammad Saw pernah mengunjungi Madinah, lalu menjumpai warga Yahudi berpuasa hari  Asyura`. Kemudian beliau menanyainya dan mereka menjawab;  Hari ini (bertepatan dengan) hari Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa. Maka kami memuasainya karena bersyukur kepada Allah Ta’ala. Lalu beliau bersabda: “Kami (kaum muslimin) lebih utama (melakukan puasa atas keselamatan Nabi) Musa dari pada kalian.

Maka dari hadits ini bisa dipahami perwujudan syukur kepada Allah atas karuniaNya pada hari tertentu atas nikmat yang diterima dan bahaya yang terhindarkan. Perwujudan syukur itu diulangi pada hari yang sama di setiap tahunnya. Sedangkan syukur kepada Allah bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah dan membaca al-Qur`an. Adakah nikmat yang lebih agung dari pada kelahiran Nabi ini, Nabi Pembawa Rahmat, pada hari tersebut?

Allah Ta’ala berfirman:

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri. (QS. Ali Imran: 164)

Pendapat al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi

As-Suyuthi berkata:

“Dan telah jelas bagiku takhrij (hadits) Maulid Nabawi selain hadits tersebut (yang disampaikan Ibn Hajar al-‘Asqalani di atas), yaitu yang ditakhrij oleh al-Baihaqi;

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ

“Diriwayatkan dari Anas, sungguh Nabi Saw pernah melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri setelah kenabian.” (HR. al-Baihaqi)

Sementara telah warid (datang dari Nabi Saw) bahwa kakeknya, Abdul Muthalib, telah mengaqiqahinya pada hari ke tujuh setelah kelahirannya. Sedangkan aqiqah tidak (disyariatkan) diulangi untuk kedua kalinya. Karena itu (harus) dipahami, bahwa aqiqah yang dilakukan Nabi Saw adalah mengungkapkan rasa syukur karena Allah telah menciptakannya sebagai rahmat bagi semesta alam, dan menyari’atkan (pengungkapan rasa bersyukur tersebut) bagi umatnya, seperti halnya beliau membaca solawat bagi dirinya sendiri karena tujuan pemberlakuan syariat solawat. Maka disunnahkan pula bagi kita mengungkapkan syukur atas kelahiran Nabi Saw dengan mengumpulkan saudara, menyedekahkan makanan dan semisalnya dari berbagai ibadah, dan menampakkan kebahagiaan.”

Pendapat al-Hafizh Syamsuddin al-Jazari

As-Suyuthi berkata:

“Kemudian saya melihat Imam al-Qurra` al-Hafizh Syamsuddin al-Jazari dalam kitabnya yang berjudul ‘Arf at-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif telah berkata, yang redaksinya adalah: “Abu Lahab pernah dijumpai dalam suatu mimpi setelah kematiannya, lalu ditanyakan kepadanya: “Bagaimana kondisimu?” Ia menjawab: “Di neraka. Hanya saja sungguh (siksa atas) diriku telah diringankan pada setiap hari Senin dan aku bisa menghisap air dari antara kedua jariku ini seukuran ini. -Ia memberi isyarat dengan ujung jarinya.- Hal itu terjadi karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah, saat dia membuatku bahagia karena memberi kabar atas kelahiran Nabi Saw, dan sebab dia telah menyusuinya.”

Maka bila Abu Lahab yang kafir dan turunnya al-Qur’an pun telah mencelanya, mendapat balasan (peringanan siksa) di neraka karena rasa bahagianya di malam kelahiran Nabi Muhammad Saw, maka bagaimana kondisi seorang muslim dari umat beliau yang mengesakan Allah dan merasa bahagia atas kelahirannya, serta memaksimalkan kemampuan yang didapatnya untuk mewujudkan rasa cinta kepada beliau Saw? Sungguh demi hidupku, balasan baginya dari Allah Yang Maha Menguasai lagi Maha Mulia adalah dengan anugerahnya dimasukkan ke sorga an-Na’im.”

Pendapat al-Hafizh Syamsuddin bin Nashiruddin ad-Dimasyqi

Al-Hafizh Syamsuddin bin Nashiruddin ad-Dimasyqi dalam kitabnya yang bertitel Maurid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi, berkata:

“Dan sungguh telah shahih bahwa Abu Lahab diringankan siksa nerakanya setiap hari senin, sebab telah memerdekakan Tsuwaibah karena merasa gembira atas kelahiran Nabi Saw.

Kemudian beliau bersyair:

بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيمِ مُخَلَّدًا

  إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ

يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَ

 

أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ دَائِمًا

بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدًا[2]  

فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي طُولَ عُمْرِهِ

Bila Abu Lahab ini yang kafir, telah datang celaannya dengan kerugian yang dialami selamanya di neraka,

telah ada keterangan bahwa di (setiap) hari senin ia diringankan (siksanya) karena bahagia dengan (kelahiran) Ahmad,[3]

maka bagaimana prasangka kepada seorang hamba yang sepanjang umurnya selalu bahagia dengan beliau dan mati dalam kondisi mengesakan (Allah)?

[1] Didirikan oleh Ubaidillah al-Mahdi al-‘Ubaidi (w. 322 H) sekte Syi’ah Bathiniyah di Maghrib (Maroko) yang sempat berhasil melakuan ekspansi sampai ke negeri Hijaz, Syam, dan menguasai Mesir lebih dari 200 tahun, sampai hegemoni mereka diruntuhkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 568 H. Baca, as-Suyuthi, al-‘Arf al-Wardi, h. 22-23. (Penerjemah).

[2] Demikian dalam Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid, karya as-Suyuthi.

[3] Keterangan (atsar) yang dimaksud adalah:

قَالَ عُرْوَةُ وَثُوَيْبَةُ مَوْلاَةٌ لأَبِي لَهَبٍ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتِ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّى سُقِيتُ فِى هَذِهِ بِعَتَاقَتِى ثُوَيْبَةَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

“Urwah berkata: “Dan Tsuwaibah adalah mantan budak perempuan milik Abu Lahab  yang ia memerdekakan. Kemudian Tsuwaibah menyusui Nabi Saw. Setelah Abu Lahab meninggal sebagian keluarganya bermimpi menjumpainya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Ia bertanya: “Apa yang engkau jumpai?” Abu lahab menjawab: “Setelah berpisah dengan kalian aku tidak menjumpai (kenyamanan). Hanya sungguh aku diberi minum di tempat ini (sambil memberi isyarat pada lekukan di bawah ibu jari/atau di antara ibu  jari dan jari-jari lainnya) karena memerdekakan Tsuwaibah.” (HR. al-Bukhari)

Baca al-Bukhari, al-Jami’ ash-Shahih, (Yamamah-Beirut: Dar Ibn Katsir, 1407 H/ 1987), Juz V, h. 1961, dan Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H), Juz IX, h. 145. (Penerjemah).

Dari kitab: المَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيفِ بِذِكْرَى حَوْلَ الاحْتِفَالِ oleh As-Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki al-Hasani

Categories: Amaliah NU

About Author