Madrasah Diniyah Dianggap Sekolah Untuk Buta Huruf

NU Jombang Online,
Pendidikan pesantren adalah penyeimbang dari minimnya lembaga pendidikan berbasis agama yang dinaungi pemerintah. Sayangnya, perhatian pemerintah terhadap pesantren masih minim.

Demikian dikatakan Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), dalam kuliah umum (stadium general) di auditorium Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang, Rabu (30/3).

Gus Ipul mengungkapkan, minimnya perhatian pemerintah terhadap sistem pendidikan pesantren terlihat dengan tidak dianggapnya pesantren dengan sistem sorogannya dan madrasah diniyah (madin) sebagai bagian dari proses pendidikan resmi.

“Madrasah Diniyah sejak kelahirannya sampai sekarang tidak pernah diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan resmi di indonesia,” ujarnya.

Padahal, lanjut Gus Ipul, pendidikan pesantren adalah penyeimbang masih minimnya lembaga pendidikan berbasis agama yang dinaungi pemerintah. Bahkan, ia mengatakan sistem pendidikan pesantren terbukti melahirkan banyak tokoh besar, seperti KH. Abdurrahman Wahid, Nur Cholis Madjid dan beberapa tokoh lainnya. “ Kalau tidak ada pesantren, bisa-bisa lebih banyak yang bodoh dari pada yang pinter di Jawa Timur ini,” celetuknya.

Implikasi lebih jauh, imbuhnya, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tidak mengakui lulusan Madin dan menganggapnya sebagai warga buta huruf. Ini tiada lain, karena lulusan madin dianggap tidak mampu membaca huruf latin. Karena itu, Jawa Timur oleh Unesco dicatat memiliki angka buta huruf yang cukup tinggi. (Ms/Robiah M).

Categories: Berita Utama

About Author

Comments

  1. Wahyu
    Wahyu 27 April, 2011, 10:43

    Madin untuk Buta Huruf, Sekolah untuk Buta Akhlak

Only registered users can comment.