Jejak Langkah dan Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

Sebagai seorang beragama selayaknya muslim dapat menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan pribadi dan dalam hubungan sosial dengan sesama. Islam diyakini mengandung ajaran-ajaran dasar tentang tata cara berinteraksi dengan sesama, antara lain aturan atau kaidah menjalankan bisnis atau tindakan ekonomi. Dalam konteks kekinian, istilah yang lazim dikenalkan adalah ekonomi Islam.

Sebagai sebuah studi ilmu pengetahuan modern, ilmu ekonomi Islam memang baru muncul pada tahun 1970-an yang ditandai dengan kehadiran para pakar ekonomi Islam kontemporer, seperti Muhammad Abdul Mannan, Nejatullah as-Siddiqi, Kursyid Ahmad, Umar Chapra dan lain-lain (hal. 1). Tetapi ternyata pemikiran tentang ekonomi Islam telah muncul sejak lebih dari seribu tahun lalu, bahkan sejak masa Nabi Muhammad sebagai rujukan utama teori ekonomi Islam setelah Al-Qur’an.

Buku yang ditulis oleh salah seorang wakil ketua Tanfidziyah PCNU dengan jumlah 439 halaman ini terdiri dari sepuluh bab. Bab pertama mengkaji tentang pengantar dan pengertian sejarah pemikiran ekonomi Islam. Bab kedua tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam pada masa pemerintahan Nabi Muhammad. Bab ketiga tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam pada masa Khulafa al-Rasyidin. Bab keempat tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam pasca masa Khulafa al-Rasyidin yang meliputi pemikiran ekonomi Islam pada masa Bani Umayyah, bani Abbasiyah, kerajaan Usmani, Safawi, dan Mughal.

Bab kelima tentang pemikiran ekonomi Islam pada periode pertama (masa awal Islam – 450H/1058 M) yaitu pemikiran Zayd bin Ali, Abu Hanifah, Al-Awza’i, Malik bin Anas, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan al-Syaibani, Abu Ubaid al-Qasim Ibn Sallam, Yahya bin Umar, Ahmad bin Hanbal, Haris al-Muhasibi, Junaid al-Baghdadi, Ibn Miskawaih, dan al-Mawardi.

Bab keenam tentang pemikiran ekonomi Islam periode kedua (450-850 H/1058 -1446 M). meliputi pemikiran ekonomi Al-Ghazali, Ibn Taymiyah, Ibn Khaldun, Ibn Hazm, Nizam al-Mulk, as-Syatibi, Imam al-Magrizi, dan Nashiruddin al-Thusi. Bab ketujuh tentang pemikiran ekonomi Islam periode ketiga (850-1350 H/ 1446-1932 M), meliputi pemikiran Syah Waliyullah, Muhammad Iqbal, Bab kedelapan tentang pemikiran ekonomi Islam periode kontemporer (1930 M- sekarang), meliputi pemikiran Al-Maududi, Baqir al-Sadr, Khursid Ahmad, Nejatullah Siddiqi, Umar Chapra, Afzalurrahman, Muhammad Abdul Mannan, Monzer al- Khaf, dan Adi Warman Azwar Karim. Bab kesembilan tentang mazhab-mazhab pemikiran ekonomi Islam kontemporer, yang meliputi mazhab Baqir as-Sadr, mazhab mainstream, dan mazhab alternatif. Dan bab terakhir tentang perkembangan pemikiran Islam ke barat.

Buku ini mengupas dengan baik dan mendetail tentang sejarah pemaknaan ekonomi Islam juga perdebatan-perdebatan yang terjadi. Kemudian juga memaparkan perkembangan teori ekonomi Islam semenjak Nabi, Khulafa ar-Rasyidin dan pasca, periode pertama keislaman , periode kedua (1058-1446 M), periode ketiga (1446-1932 M), dan periode kontemporer (1932- sekarang).

Para tokoh pemikir muslim yang dihadirkan dalam buku ini sebagai pemikir ekonomi Islam sebenarnya berangkat dari para pemikir dalam bidang yang beragam dan telah dikenal sebagai ahli dalam disiplin keilmuan tertentu. Yang selama ini dikesankan sebagai seorang imam fikih misalnya, di buku ini disebut juga sebagai pemikir ekonomi Islam, misalnya Abu Hanifah, Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Ibn Hazm, walaupun memang teori ekonomi termasuk dalam kajian fikih. Yang selama ini kerap dilabeli sebagai ahli tasawuf, di buku ini disebut sebagai pemikir ekonomi Islam, misalnya Junaid al-Baghdadi, dan Al-Ghazali. Yang selama ini dikenal sebagai filsuf, demikian juga dikenalkan dalam buku ini sebagai pemikir ekonomi Islam misalnya Ibn Miskawaih, Baqir as-Sadr, Muhammad Iqbal, dan sebagainya. Bahkan para pemimpin negara pun dimasukkan dalam kategori pemikir ekonomi Islam, misalnya Muawiyah, Abdul Malik bin Marwan, Umar bin Abdul Aziz, Abu Ja’far Manshur, Harun al-Rasyid, perdana menteri Nizam al-Mulk, dan sebagainya.

Kajian kritis penulis buku ini kemudian terlihat pada bab tentang mazhab-mazhab pemikiran Islam kontemporer yang menganalisis tentang mazhab Baqir as-Sadr, mazhab mainstream, dan mazhab alternatif.
Mazhab mainstream disebut penulis sebagai mazhab yang mendominasi khazanah pemikiran ekonomi Islam di seluruh dunia. Mengutip Hendrie Anto, dikatakannya, “ Secara umum pemikiran mereka relative lebih moderat jika dibandingkan dengan mazhab lainnya sehingga lebih mudah diterima masyarakat” (hal. 408).

Bab terakhir pada buku ini hemat peresensi adalah bab yang paling penting yang mau diungkapkan penulis buku ini, bahwa telah terjadi transformasi pemikiran ekonomi dari timur (Islam) ke barat.

Dikatakannya, “……hal ini mengindikasikan betapa cemerlangnya dan brilliannya para sarjana muslim waktu itu. Pemikiran-pemikirannya ternyata berdimensi jauh ke depan, sehingga jauh mendahului pemikir para ekonom barat. Beratus-ratus tahun yang lalu, jauh ketika dunia barat masih dalam kebodohan dan kegelapan, para sarjana muslim berhasil merumuskan pemikiran-pemikiran ekonomi yang baru ditulis oleh para ekonom barat berates-ratus tahun kemudian” (hal. 414).

Penulis buku ini juga memberikan indikasi kemungkinan ada plagiasi yang dilakukan sarjana barat terhadap pemikiran ekonomi muslim, misalnya Gresham telah mengadopsi teori Ibn Taymiah tentang mata uang berkualitas buruk dan baik (hal. 422). Namun jauh lebih penting dari hal tersebut, dikemukakan dalam buku ini bahwa sejarah membuktikan bahwa para pemikir muslim merupakan para penemu ilmu (hal. 424).

Sebagai buku yang banyak mengupas tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam, buku ini sangat lengkap dengan kumpulan referensi terkait. Terbukti ada 157 referensi termasuk internet yang dilampirkan penulsi buku ini sebagai rujukan. Namun ketika mengutip pemikiran para pemikir Arab Muslim penulis buku ini lalai karena tidak menampilkan bahasa asli, yaitu teks Arab termaksud. Sehingga istilah-istilah khas dari rujukan utama yang berbahasa Arab tidak secara langsung dapat terklarifikasi.

Bagaimanapun buku dosen tetap ekonomi Islam STAIN Kediri ini penting dibaca kalangan mahasiswa, para pemerhati ekonomi Islam dan sejarahnya. Apalagi buku ini juga mengenalkan tokoh ekonomi Islam dari Indonesia yaitu Adi Azwar Karim, dan menyebut sekilas beberapa pemikir ekonomi Islam dari Indoensia yang lain, semisal A.M. Saefuddin, Karnaen Perwataatmaja, M. Amin Aziz, Mohammad Syafei Antonio, Zainal Arifin, Mulya Siregar, Riawan Amin, dan lainnya.

Judul : Jejak Langkah dan Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam
Penulis : Drs. Nur Chamid, M.M.
Tahun Terbit : November 2010
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Jumlah halaman : xxiii + 439
Peresensi : Yusuf Suharto

Leave a Reply