Ini Teori Produksi Ulama Menurut KH Qoyyum Mansur

Ini Teori Produksi Ulama Menurut KH Qoyyum Mansur

NU Jombang Online,
KH Qoyyum Mansur Lasem Jateng dalam acara haul masyayikh Pesantren Al Fatimiyah Bahrul Ulum Tambakberas,  Jombang menjelaskan teori produksi ulama. ’’Dalam pandangan tasawuf, ada sejumlah teori memproduksi ulama,’’ katanya di pesantren asuhan Rois Syuriah PCNU Jombang, KH Abdul Nashir Fattah ini,  Jumat (10/2/2017) lalu.

Pertama teori tempat, “Tempat kelahiran mempengaruhi karakter seseorang,’’ kata Gus Qoyyum sapaan akrabnya.

“Jadi kalau akan melahirkan, cari tempat yang baik. Misalnya rumah sakit Islam. Bisa RSNU atau RS Muhammadiyah. Atau cari keluarga dan lingkungan yang baik,’’ sarannya.

Lanjut teori kedua adalah keluarga, Di Quran, ada 26 kali penyebutan keluarga dengan kata ali, ala, alu. Keluarga Nabi Ibrahim dua kali. Keluarga  Nabi Luth empat kali. Firaun paling banyak 14 kali. ’’Siapapun, bisa punya jiwa Fir’aun. Penguasa maupun ulama juga bisa punya jiwa Fir’aun,’’ tuturnya.

“Kalau ingin anak pintar ngaji, perdengarkan bacaan Quran,’’ sarannya kembali.

Beranjak ke teori ketiga yaitu seks, tuturnya. Beliau lalu mengutip pendapat nya Ali Alkhowas, “siapa yang dibayangkan sebelum, selama dan setelah berhubungan seks, akan mempengaruhi anak. Sebab ada energi yang mengalir dari pikiran, kedalam jiwa, lalu ke anak. ’’Kalau yang dipikirkan ulama, jadinya ulama. Kalau yang dipikirkan penyanyi, ya jadi penyanyi,’’ ucapnya disambut ger-geran jamaah.

Acara haul kali ini dihadiri dari berbagai kalangan, terpantau dilokasi ada wakil gubernur Jatim, Gus ipul, Kiai Fathul Huda atau bupati Tuban, juga ada ratusan alumni dan santri Bahrul ulum.

Gus Qoyyum menambahkan, apa yang kita cintai, apa yang kita pikirkan, energinya akan menyalur dalam diri kita. ’’Kalau kita cinta Rosulullah, maka Allah akan mentransfer energi sehingga karakter kita mirip Rosulullah,’’ bebernya.

Kembali ke Gus Qoyyum, teori terakhir lewat metode transfer. Gus Qoyyum cerita, ada ulama bernama Sakdudin Attaftahzani. Beliau belajar puluhan tahun tapi tetap bodoh. Sampai suatu hari, ada orang datang kepadanya memberitahu bahwa dia ditunggu Rosulullah. Dia lalu datang dan disuruh membuka mulut lalu diludahi Rosulullah. Sejak itu, dia menjadi ulama brilian. ’’Ada kesunahan, kita sowan ulama membawa kurma lalu minta ulama tersebut memamahnya. Kemudian kurma pamahan tersebut diberikan pada anak kita,’’ paparnya.

Gus Qoyyum mengajak jama’ah bernostalgia ke masa kecilnya, “Saya sering makan sesuatu yang dipamahkan oleh bapak saya. Bisa jadi, gus-gus itu jadi ulama karena kecilnya sering makan dari makanan yang dipamah bapaknya yang seorang kiai,” ujarnya.

Bahkan teori ke empat ini tidak hanya berlaku pada kalangan NU saja, seorang tokoh Muhammadiyah KH Muchid Jaelani sempat cerita, saat mondok di  Tebuireng, mulutnya pernah diludahi Gus Kholiq, pengasuh Pesantren Tebuireng yang dikenal sakti. Sejak itu, beliau bisa membaca sendiri kitab-kitab kuning meskipun yang belum diajarkan, tutup Gus Qoyyum diiringi ketawa jama’ah. (Syarif/Syamsul Arifin)

Categories: Berita Utama

About Author