Menu Click to open Menus
Home » Berita Utama » Hasil Keputusan LBM PCNU Jombang: Panitia Zakat Fitrah Bukan Amil

Hasil Keputusan LBM PCNU Jombang: Panitia Zakat Fitrah Bukan Amil

(1059 Views) June 18, 2017 3:11 pm | Published by | No comment

NU Jombang Online,
Panitia zakat fitrah yang terdapat di Masjid-masjid, musholla-mushola, dan sekolah-sekolah, tidak serta-merta bisa disebut sebagai amil zakat. Hal ini gencar disosialisasikan oleh Lembaga Batsul Masail (LBM) PCNU Jombang, dalam rangkaian safari romadhon dan ta’aruf pengurus baru ke warga NU se Jombang, yang dilaksanakan pada 15-18 juni 2017.

Keputusan tersebut dipicu oleh beredarnya surat keputusan pemerintah bahwa amil zakat harus mendapatkan SK dari kepala desa atau kepala sekolah jika dilakukan di sekolah. Tim LBM bersama syuriyah dan tanfidziyah PCNU Jombang, berpandangan bahwa panitia zakat fitrah yang ada selama ini bukanlah amil zakat, sehingga mereka tidak berhak mendapatkan bagian zakat atas nama amil.

Menurut Kyai Sholeh, salah satu jajaran Syuriyah PCNU Jombang sekaligus yang menjadi juru bicara, syarat menjadi amil itu sangat berat, “harus faqih dalam bidang zakat, dan adil.” Selain itu amil zakat hanya bisa ditunjuk oleh presiden atau yang mewakili, dalam hal ini gubernur atau bupati. Menurut PCNU Jombang, panitia zakat sebagaimana yang dipraktekkan selama ini hanya bertindak sebagai wakil muzaki (orang yang berzakat) kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat). Karena hanya sebagai wakil, maka tidak boleh mengambil sebagian beras zakat fitrah sama sekali, meskipun untuk beli tas kresek atau operasional yang lain.

Namun demikian, ada solusi agar panitia zakat bisa memanfaatkan sebagian perolehan zakat untuk operasional, yaitu dengan menggunakan sistem mustahiq zakat. Sistem mustahiq yang dimaksud adalah panitia menunjuk beberapa mustahiq, misal 4 atau 5 orang, selanjutnya panitia mensosialisasikan kepada para muzaki bahwa zakat yang mereka keluarkan, diberikan kepada mustahiq yang telah ditunjuk. “Mustahiq bisa diambilkan dari fuqoro’ dan masakin, atau siapa saja yang tergolong pada asnaf zakat,” jawab Kyai Sholeh ketika ditanya siapa sajakah yang bisa dijadikan mustahiq zakat.

Akan tetapi sebelum ditetapkan sebagai mustahiq, harus ada kesepakatan bahwa setelah zakat diserahkan kepada mustahiq, zakat tersebut selanjutnya akan dibagi-bagi lagi pada fuqoro’ dan masakin, serta pihak-pihak lainnya. Dengan sistem demikian, akan didapat beberapa keuntungan. Pertama, panitia zakat bisa memanfaatkan sebagian perolehan zakat untuk beli kresek, bayar transportasi pendistribusian zakat, atau konsumsi panitia.

Kedua, apabila pada pembagian zakat, ada yang terlewat, maka tidak masalah panitia memberikan pada hari kedua. Hal ini dikarenakan kewajiban muzaki sudah selesai ketika telah diserahkan pada mustahiq yang ditunjuk panitia. Sedangkan pembagian pada proses berikutnya adalah urusan mustahiq dengan pihak yang diberi bagian. Mustahiq yang memberikan kembali zakat yang didapatkannya kepada orang lain ini, manjadikan pahala shodaqoh baginya.

Tanpa menggunakan sistem mustahiq ini maka akan kesulitan bagi panitia untuk mendapatkan dana operasional yang dibutuhkan dalam penyaluran zakat fitrah. “dana penyaluran tidak dapat diamblikan dari kas masjid, karena penyaluran zakat bukan termasuk kegiatan memakmurkan masjid, apalagi dana itu diambil dari dana yang dialokasikan pembangunan masjid.” Tambah Kyai Sholeh.

Membeli Beras Zakat dari Panitia Zakat

Menurut mazhab syafi’i, zakat yang menggunakan uang itu tidak boleh, karena zakat fitrah harus dengan bahan makanan pokok. Akan tetapi kalau uang tersebut sudah dirupakan beras, maka hukumnya boleh. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, maka mustahiq zakat yang dibentuk oleh panitia zakat sebagaimana yang dijelaskan di atas, bisa menjual sebagian zakatnya, kepada orang yang akan berzakat, sehingga kalau dia dengan sebab tertentu tidak bisa membawa beras, tetap bisa berzakat dengan membeli pada panitia zakat. Dengan membeli beras di panitia zakat, muzaki masih tetap bisa niat zakat, karena beras yang akan di zakat kan ada nyata di hadapannya.

Membeli zakat pada panitia zakat demikian juga bisa diberlakukan pada orang miskin yang berkewajiban zakat. Perlu diketahui, orang yang wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah orang yang mempunyai cadangan makanan pada siang dan malam hari idul fitri. Sehingga orang miskin yang hanya mempunyai cadangan makanan pada idul fitri tersebut, juga berkewajiban mengeluarkan zakat.

Panitia zakat bisa membantu orang miskin demikian untuk membayar zakat. Caranya dengan menjual beras zakat pada mereka dengan harga di bawah pasaran. Misalnya satu paket zakat fitrah harga pasarnya Rp. 30.000,- , panitia bisa menjualnya hanya dengan harga Rp. 20.000,-. Hal ini dilakukan agar orang miskin tetap bisa menunaikan zakat fitrah. (Ony)

Categorised in:

Comment Closed: Hasil Keputusan LBM PCNU Jombang: Panitia Zakat Fitrah Bukan Amil

Sorry, comment are closed for this post.