Fiqh Zakat Fitrah

Oleh KH. Abd Nashir Fattah (Rais Syuriah PCNU Jombang)

Pengertian Zakat Fitrah
Zakat Fitrah, atau bisa juga disebut Shadaqah Fitrah, menurut istilah fiqh berarti: Shadaqah yang diwajibkan karena seseorang berbuka puasa Ramadlan. Pertama kali diwajibkan bersamaan dengan diwajibkannya puasa bulan Ramadlan, yaitu dua hari sebelum Hari raya Fitri tahun II Hijriyah.

Hikmah Zakat Fitrah:
Diantara hikmah disyariatkannya zakat fitrah antara lain:
1. Menolong (memberi santunan) kepada fuqara (orang-orang fakir) dan masaakin (orang-orang miskin) agar tidak meminta-minta pada saat Hari raya Fitri
2. Membuat mereka bergembira disaat semua orang Islam bergembira atas datangnya Hari raya Fitri
3. Membersihkan diri kita dari perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang tidak baik setelah berlalunya bulan suci Ramadlan
4.  Menambal/menutup cacat (kekurangan-kekurangan) yang kita lakukan selama bulan suci Ramadlan, sebagaimana sujud sahwi menambal/menutup kekurangan-kekurangan yang dilakukan di dalam shalat
5. Menghantarkan puasa kita sampai kepada Allah SWT. Sebab puasa Ramadlan akan bergelantungan antara langit dan bumi, dan tidak akan sampai kepada Allah SWT, sampai Zakat Fitrah ditunaikan.

Hukum Zakat Fitrah
Menurut kebanyakan (jumhur) Fuqaha (Ahli Fiqh), Zakat Fitrah hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau orang dewasa.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh beberapa Hadits, antara lain: Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori: Dari Ibnu Umar RA “Sesungguhnya Rasulullah SAW. mewajibkan Zakat Fitrah, yaitu satu sha’ kurma kering atau gandum bagi setiap orang merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau wanita” – sebagian riwayat mengatakan – “atas anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya”.

Syarat-syarat Wajibnya Zakat Fitrah
Zakat Fitrah wajib dikeluarkan dengan syarat-syarat sebagi berikut:
1. Islam. Karena itu Zakat Fitrah tidak diwajibkan kepada orang kafir. Adapun orang yang murtad, Zakat Fitrahnya ditangguhkan sampai dia kembali menjadi Islam.
Namun, orang kafir tetap memiliki kewajiban membayar Zakat Fitrahnya orang-orang yang wajib dinafkahi, seperti istri dan anak-anaknya. Jadi, syarat Islam itu berlaku bagi orang yang wajib dinafkahi (mukhraj anhu) bukan bagi orang yang mengeluarkan Zakat Fitrah (mukhrij)

2. Mengalami hidup di sebagian bulan Ramadlan dan bulan Syawal. Zakat Fitrah wajib dikeluarkan bagi orang yang meninggal dunia setelah matahari terbenam pada malam Hari raya Fitri. Begitu juga bagi anak yang lahir sebelum terbenamnya matahari dan meninggal setelah matahari terbenam pada malam Hari raya Fitri.

3. Memiliki kelebihan mu’nah (biaya hidup) – baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang-orang yang ditanggung nafkahnya – pada Hari raya Fitri dan malamnya (sehari semalam).
Yang dimaksud dengan mu’nah di sini meliputi makanan dan lauk pauknya, tempat tinggal, pakaian dan lain-lain yang layak dan bersifat pokok. Dari sini kita ketahui bahwa, ambeng (Jawa: makanan sajian) yang biasa disajikan oleh masyarakat kita di masjid-masjid atau musholla-musholla tidak termasuk yang pokok, artinya jika beras dan lauk pauk yang kita buat ambeng tersebut menyebabkan kita tidak mempunyai kelebihan pada hari raya dan malamnya, hal ini tidak bisa menggugurkan kewajiban kita mengeluarkan Zakat Fitrah.

Jika dilihat dari tiga syarat diatas, maka bisa diuraikan hal sebagai berikut: kewajiban Zakat Fitrah sama sekali tidak ada kaitannya dengan faqir miskin. Banyak dari masyarakat kita yang tidak mau mengeluarkan Zakat Fitrah untuk dirinya sendiri, dan atau keluarga yang nafkahnya menjadi kewajibannya, dengan alasan mereka faqir miskin yang hanya berhak menerima zakat. Hal ini sering disalahpahami oleh kebanyakan masyarakat kita.

Orang Yang Wajib Mengeluakan Zakat Fitrah
Zakat Fitrah diwajibkan bagi setiap orang Islam yang merdeka dan memiliki kelebihan biaya hidup pada Hari raya Fitri dan malamnya (sebagaimana penjelasan diatas), baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang-orang yang nafkah mereka menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sesuai dengan Qaidah: “Setiap orang yang berkewajiban memberi nafkah kepada orang lain, maka wajib pula baginya mengelurkan Zakat Fitrah untuknya”.

Namun qaidah ini memiliki pengecualian, yaitu: Istri ayah (ibu tiri). Anak tiri wajib memberi nafkah padanya, namun tidak wajib mengeluarkan Zakat Fitrah untuknya. Termasuk dalam pengecualian ini adalah hamba sahayanya, kerabat dan istri yang kafir.

Kadar (Takaran) Zakat Fitrah Yang Wajib Dikeluarkan
Kadar (takaran) Zakat Fitrah yang wajib dikeluarkan adalah 1 (satu) sha’ atau empat mud dan berupa bahan makanan pokok, seperti beras, gandum, kurma dan lain-lain yang berlaku secara umum di daerah dimana kita tinggal.

Sha’ adalah nama suatu takaran persegi empat yang panjang lebarnya 14.65 Cm³ dan sepadan dengan sekitar 2.75 Kg beras.

Jika seseorang mempunyai kelebihan mu’nah, namun kurang dari satu sho’, maka kelebihan tersebut wajib dikeluarkan sebagai Zakat Fitrah untuk dirinya sendiri, meskipun hanya satu mud (sekitar 0,6875 Kg.).

Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah
Ada lima waktu dalam mengeluarkan Zakat Fitrah, yaitu:
1.  Waktu wajib, jika menemui sebagian dari bulan Ramadlan dan sebagaian dari bulan syawal, artinya jika seseorang di saat matahari terbenam pada malam Hari raya Fitri dia sudah memenuhi syarat-syarat kewajiban Zakat Fitrah
2.  Waktu fadlilah, pada Hari raya Fitri setelah shalat fajar dan sebelum melaksanakan shalat hari raya Fitri
3.  Waktu jawaz, dimulai semenjak awal ramadlan
4.  Waktu makruh, setelah shalat hari raya Fitri sampai saat terbenamnya mata hari, kecuali kalau ada kemaslahatan, seperti menunggu kerabat dekat atau orang faqir yang shaleh.
5.  Waktu haram, setelah hari raya Fitri, kecuali kalau ada uzur syar’i, seperti tidak adanya orang yang berhak menerima zakat.

—————————————
Maraji’:
1. Shoheh Bukhori, II / Hadits 1441
2. Sunan Abi Daud, II / Hadits 1609
3. Hasiyah Jamal, II / 271 – 274
4. Bujairami Iqna’, II / 42 – 52
5. I’anatut Thalibin, II / 170 – 174
6. At Taqrirat As Sadidah Fil Masail Al Mufidah, Hal. 418 – 422
7. Fathul Qadir Fi Ajaib al maqadir, Hal 9

Categories: Fiqh

About Author

Comments

  1. kangmahfudz
    kangmahfudz 23 Agustus, 2011, 14:11

    Muantab …. NU coy.

  2. Fathoni
    Fathoni 24 Agustus, 2011, 16:35

    tanya
    1.berat zakat sebenarnya berapa sih? 2,75Kg? di masyarakat umumnya kan 2,6Kg?
    2. Benarkah mustahik zakat adalah orang2 yg disebt dalam surah taubah ayat 60? sebab disitu kalimatnya bukan zakat tetapi shodaqoh. Nah kalau shodaqoh asnafnya bukan hanya 8 itu saja,karena di ayat2 lain juga disebutkan penerima shodaqoh selain yang disebut ayat tersebut
    Mkash Jawabannya

    • Abdul Nashir Fattah
      Abdul Nashir Fattah 26 Agustus, 2011, 01:04

      Jawab:
      1. Perbedaan ini nggak jadi masalah. Kalau ingin persisnya ya pakai takaran tsb. Hal ini terjadi, karena satu takar bila kita timbang akan berbeda hasilnya, tergantung apa yang ditimbang. Misalnya satu gelas air putih dan satu gelas gula kalau kita timbang hasilnya akan berbeda. Begitu juga beras. Bahkan saya pernah meniliti bermacam-macam beras yang beredar di jombang, ada ir, ada cigannjur dan lain-lain. Hasilanya antara 2.5 kg sd. 2.85 kg.
      2. Shadaqah itu ada yang wajib dan ada yang sunat. Shadaqah dalam ayat ini yang dimaksud adalah Shadaqah wajib. Pendistribusianya ya pada 8 asnaf tadi. Wallohu ‘alam

  3. mudhy'
    mudhy' 30 September, 2011, 20:58

    kalau orang yang mwmbayar zakat fitrah disebut apa ya?

  4. nofree
    nofree 25 Juli, 2012, 10:47

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Sblm y trima kasih atas d baca y surat saya.
    Saya seorang ayah tiri dari 5 anak istri saya,sy blm memiliki keturunan.
    Yg mw sy tanyakan apakah saya berkewajiban zakat fitrah atas mereka,kl mmg ada hadist shahih y apa.
    Trims

    وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتهُ

  5. webmaster
    webmaster Author 25 Juli, 2012, 12:05

    Untuk Nofree,
    Coba dilihat dalam ketentuan “Orang Yang Wajib Mengeluakan Zakat Fitrah” di atas.
    Disitu disebutkan: Anak tiri wajib memberi nafkah padanya, namun tidak wajib mengeluarkan Zakat Fitrah untuknya.

    Demikian,

    Salam,

    • nofree
      nofree 26 Juli, 2012, 08:45

      Maksud y gmn ya?saya kurang paham maksud dari tulisan tsb.apa yg d maksud anak tiri memberikan zakat fitrah kepada saya/saya menerima zakat dr mrk.apa begitu mksd y
      Tolong berikan penjelasan lagi krn sy sgt kurang paham

      Trims

  6. webmaster
    webmaster Author 27 Juli, 2012, 10:03

    1. Anda tidak wajib mengeluarkan zakat fitra untuk anak tiri anda.
    2. Anak tiri anda wajib memberi nafkah anda

  7. nurcholis
    nurcholis 9 Agustus, 2012, 23:18

    bolehkah memberikan zakat fitrah kepda mustahiq yg berada diluar kota? jaraknya kira-kira 35 km ( kurang lebih) terima kasih atas jawabannya.

  8. Muhammad khadikul Fikri
    Muhammad khadikul Fikri 12 Agustus, 2012, 14:21

    1. Bagaimana hukumya apabila seseorang diperintahkan untuk berzakat di lembaga sekolah umum (bukan pondok pesantren)..? padahal di dalamnya tidak terdapat Amil zakat fitrah yg berasal dari pemimpin di daerah tersebut..

    2. mohon penjelasan tentang bagaimanana. prosedur kepengurusan amil zakat yg syah…!!

    3. Apakah hukumnya apabila Amil zkat memperoleh takaran zakat yg melebihi daripada penerima zakat yg lain misal ; fakir, miskin.. yg jelas lebih membutuhkan daripada Amil zakat…

  9. cakMus
    cakMus 16 Agustus, 2012, 12:26

    untuk Muhammad khadikul Fikri

    1. Tidak masalah. Sekolah dalam hal ini menjadi mutabarri’ (sukarelawan) zakat. Tapi kalau zakat fitra Imam tidak memliki kekuasaan thd zakat fitra (laisa lahu binnadhori)
    2. kalau di di Indonesaia berdasar UU pengelolaan zakat, coba cari di google
    3. tdk ada masalah. Tdk ada ketentuan besaran yg diterima mustahiq. Yang ada besaran bagi muzakki

Only registered users can comment.