Menu Click to open Menus
Home » Sosok » Dua Sahabat Sejati, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri

Dua Sahabat Sejati, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri

(230 Views) March 28, 2017 9:54 am | Published by | No comment

Pada 05 Dzulhijjah 1304 H, bertepatan dengan 23 Agustus 1887 M, lebih dari satu seperempat abad yang lalu, di sebuah desa yang bernama Tayu Wetan Pati Jawa Tengah, terlahir seorang bayi laki-laki yang kelak kemudian hari kita cintai dan kita kenal dengan nama almaghfurlah KH. Bisri Syansuri. Kiai Bisri kecil mulanya belajar ilmu qur’an dan tajwid. serta ilmu-ilmu  keagamaan langsung dari ayah beliau yaitu Kiai  Syansuri dan juga berguru kepada Kiai Abdusshomad. kemudian di usia 9 tahun, beliau mulai tertib mulai belajar ilmu keagamaan kepada para kiai dan guru-guru yang ada di Tayu  dan Jawa Tengah. Salah satunya beliau memperdalam ilmu keagamaan kepada Kiai Amin yang masih keturunan Syekh Mutamakkin.

Setelah itu beliau berguru kepada Kiai Shiroj pendiri pondok Wetan Banon dan Kiai Abdussalam Pendiri Pondok Pesantren Matholiul Falah di Kajen. Kiai Bisri mempelajari ilmu fiqih ilmu aqidah dan ilmu-ilmu keislaman lainnya secara langsung dari Kiai Abdussalam. menurut al-maghfurlah KH Abdurrahman Wahid dalam gemblengan Kiai Abdussalam  inilah semua ajaran agama yang dipelajari Kiai Bisri sangat membekas dan sangat menentukan corak kepribadian yang berkembang di dalam diri beliau kelak dikemudian hari. Pada tahun 1906 Kiai Bisri Syansuri melanjutkan nyantri ke Syaikhona Kholil Bangkalan. beliau belajar ilmu nahwu  shorof dan ilmu-ilmu lainnya. Hal yang sangat istemewa ketika nyantri di Syaikhona Kholil adalah pertemuan dan persahabatan almaghfurlah KH. Bisri  Syansuri dengan KH. Abdul Wahab Chasbullah dari Tambakberas Jombang. Dalam catatan Gus Dur juga, jalinan persahabatan inilah kemudian menjadi tonggak paling penting bagi tumbuh dan perkembangan ajaran agama Islam bahkan kelak kemudian beberapa puluh tahun selanjutnya mewarnai ajaran Islam Nusantara di negeri kita tercinta.  Usai nyantri di Syaikhona Kholil, Kiai Bisri Syansuri melanjutkan pengembaraan ilmunya di pesantren Rembang Sarang dan berguru kepada  KH Umar bin Harun, Kiai Syuaib  Sarang,  Kiai Kholil Kasingan, disinilah beliau menghafalkan alfiyah serta mengkhatamkan kitab fathul wahab dan fathul mu’in, setelah itu pada tahun 1908 beliau menuju Tebuireng Jombang untuk nyantri kepada hadrotus syekh Kiai Hasyim Asy’ari, dibawah asuhan Kiai Hasyim Asy’ari beliau belajar ilmu wusul, ilmu fiqih, ilmu hadist dan ilmu tafsir. disinilah Kiai Bisri mengalami kematangan keilmuan agama.

Di Tebuirenglah, pertemanan Kiai Bisri dan Kiai Wahab semakin terbina matang pula, sejak sama-sama diawali nyantri  di Syaikhona Kholil Bangkalan. Dalam pengembaraan ilmu di Tebuireng inilah Kiai Bisri dan Kiai Wahab semakin  menunjukkan sifatnya masing-masing, Kiai Bisri terkenal kuat pendiriannya dan kekokohannya di dalam memegang fiqih dan tidak bisa diganggu gugat dalam segala keputusannya. melengkapi beliau adalah almaghfullah Kiai Wahab Hasbullah yang terkenal lentur dalam segala pandangannya dalam memutuskan berbagai masalah. Kemudian pada tahun 1913 berbekal pengalaman dan ilmu yang diperoleh  selama nyantri dan gemblengan langsung dari Kiai Hasyim Asy’ari, almaghfurlah Kiai Bisri Syansuri  memutuskan untuk berangkat belajar ilmu agama ke Makkah, menuntut ilmu bersama-sama dengan Kiai Wahab Chasbullah. Dua orang ini selama belajar di Makkah, terus ngaji kepada ulama terkemuka, seperti Syekh Muhammad  Bakir, Syekh Muhammad Said Yamani, Syekh Ibrahim Yamani dan Syekh Jamal Maliki. Mereka berdua juga berguru kepada guru dari para guru Kiai Hasyim Asy’ari, seperti Kiai Khotib Padang, Kiai  Syuaib Dinastani, dan Kiai Mahfudz Termas.

Sumber: Yayasan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang

Categorised in:

Comment Closed: Dua Sahabat Sejati, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri

Sorry, comment are closed for this post.