Cinta Sejati Dalam Pandangan Imam Al-Ghozali

Cinta Sejati Dalam Pandangan Imam Al-Ghozali

Oleh ; Ali Makhrus*
Cinta adalah satu sifat khas bagi makhluk hidup yang berperasaan. Cinta tak aka nada pada kayu, batu dan makhluk yang mati. Manusia memiliki segal sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya, lalu cenderung mencintainya. Tak mungkin ada cinta sebelum sesuatu itu dikenal atau dilihat. Cinta menurut Al  Ghozali bermacam macam, di antaranya (Abdul Qodir Jaelani, Keluarga Sakinah, 57):

Pertama, yang dicintai oleh manusia adalah dirinya sendiri. “Cinta diri” ini berarti ingin terus hidup, dan tidak mau rusak atau binasa. Ia suka keabadian dan kesempurnaan wujud dirinya, dan ini merupakan tabiat yang ditentukan oleh Allah SWT alias sunnatullah. Manusia suka keselamatan dirinya, harta bendanya, anak istrinya, kaum kerabatnya. Itu semua merupakan kelengkapan bagi wujud dirinya sendiri.

Kedua, manusia mudah tertarik hatinya oleh perbuatan orang baik dari orang lain. Ini juga merupakan suatu tabiat yang tak dapat diubah. Karena itu, manusia kadang  kadang cinta kepada seseorang yang tidak ada hubungan family dengan dia. Ia cinta kepada dokter yang menyembuhkan penyakitnya. Dan hal ini, apabila kita tinjau lebih dalam, akan kembali pada sebab yang pertama, yaitu cinta kepada diri sendiri.

Ketiga, manusia mencinta sesuatu karena memang zat tercinta itu sendiri. Inilah cinta sejati yang dapat dipercaya. Cinta semacam ini antara lain seperti cinta terhadap keindahan, kebagusan dan kecantikan. Semua itu merupakan nikmat tersendiri.

Keempat, manusia yang terbatas pandanganya dalam ruang lingkup materi, mengira bahwa keindahan itu hanya pada; muka yang manis, kulit putih kunig atau kemerah-merahan, badan langsing dan lainya. Bagi manusia yang mempunyai pandangan yang jauh, indah itu mempunyai pengertian yang lebih lengkap, yaitu segala sifat  sifat kesempurnaan yang melekat pada benda atau makluk itu. Kuda yang bagus dan indah adalah kuda yang memiliki sifat  sifat yang lengkap, seperti rupanya, bentuk badanya, kecepatan larinya dan tenaganya.

Keindahan dan kecantikan itu bukan pada bentu materinya, tetapi karena sifat  sifat yang melekat pada materi tersebut, yang secara inderawi tidak dapat dilihat atau dirasa, tetapi secara rohani ia benar  benar menumbuhkan rasa cinta yang dalam. Sifat – sifat itu antara lain; kebijaksanaan, kecerdasan, keberanian, kemurahan hati, ketaqwaan, rendah hati. “CINTA KEPADA ORANG YANG BERSIFAT SEPERTI ITU DISEBUT CINTA SEJATI” (Lihat, Al Ghozali, Cinta dan Bahagia (terjemah), Jakarta: Tinta Mas, 1984, hal 3  4).

*Penulis adalah kader PMII Jombang, Ketua I Bidang Kaderisasi periode 2013-2014

Categories: Artikel - Hikmah

About Author