Bersinergi dengan LTM NU, LDNU Jombang Kuatkan Dakwah di Tingkat SLTA

Bersinergi dengan LTM NU, LDNU Jombang Kuatkan Dakwah di Tingkat SLTA

NU Jombang Online,
PC LDNU Jombang bersinergi dengan PC LTM NU setempat untuk menguatkan dakwah di tingkat SLTA. Dalam hal ini dua lembaga NU tersebut kerjasama dengan Ikatan Remaja Muslim (IKRAM) Jombang dalam bentuk sarasehan, Jumat (19/1/2018) lalu Masjid MAN 1 Jombang.

IKRAM merupakan perkumpulan remaja Islam di tingkatan SLTA yang konsen dalam hal dakwah dan kegiatan keislaman.

Dalam kesempatan ini LDNU Jombang diberikan tugas pertama untuk memberikan materi Aswaja sebagai upaya dalam membendung radikalisasi.

Ketua PC LDNU Jombang, Aang Fatihul Islam mengatakan, kegiatan ini menjadi pintu awal sinerginya LDNU-LTMNU dengan IKRAM Jombang yang terdiri dari komposisi siswa MA dan SMA se-Jombang.

“Dalam sarasehan ini kita diberikan amanah untuk menyampaikan materi Deredikalisasi dalam Perspektif Aswaja,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu Aang sapaan akrabnya menyampaikan terkait penyimpangan yang akhir-akhir ini terjadi dari Kitab Mirah Al-Mafatih Syarh Misykat Al-Masyabih, 1984: 342.

Di kitab itu, katanya dijelaskan bahwa jauh-jauh hari Rasulullah SAW sudah pernah mengatakan ada tiga penyimpangan di tengah Umat. Pertama: Tahrif Al-Gholin (penyimpangan kelompok yang melampaui batas), penyimpangan ini terjadi melalui penyimpangan ahli bidah terhadap makna Al-Quran dan Al-Hadits sehingga keluar dari maksudnya. Kemudian terlalu ketat dalam memahami agama. Kedua: Intihal Al-Mubthilin (klaim kelompok batil). Hal ini terjadi melalui klaim dalil yang tidak sesuai tempatnya, dan sinkretisme atau pencampuradukan agama. Ketiga: Tawil Al-Jahilin (Tawil orang-orang bodoh. Ini terjadi melalui penafsiran Al-Quran dan Al-Hadits dengan penafsiran yang salah, kemudian juga menganggap sepele penafsiran Al-Quran dan Al-Hadits serta meninggalkan perintah berdasarkan penafsiran yang lemah.

“Kalau ditarik secara lebih sederhana pada masa sejak zaman Rasulullah sudah ada dua jenis penyimpangan, yakni penyimpangan yang bersifat radikal dan penyimpangan yang bersifat liberal,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Aang, peran Aswaja di sini adalah sebagai penyeimbang antara faham radikal dan liberal.

Dalam kesempatan ini ia juga menceritakan sejarah ringkas perkembang Aswaja sejak zaman Rosulullah SAW, sahabat Ali bin Abi Thalib, masa tabiin, masa Abu Hasan Al-Asyari, dan Masa K.H. Hasyim Asyari.

Pada Masa K.H. Hasyim Asyari ini menurutnya, metode pemikiran yang berkembang di kalangan NU terdapat 4 cara. Pertama: pemikiran moderat (Fikrah Tawassuthiyah), kedua: pemikiran toleran (Fikrah Tasamuhiyah), ketiga: pemikiran dinamis (Fikrah Tathowuriyah), dan keempat: pemikiran metodologis (Fikrah Manhajiyah).

“Sehingga terdapat benang merah bahwa pada masa K.H. Hasyim Asyari ASWAJA selalu mengambil sikap moderat (tawasuth), toleran (tasamuh), berimbang (tawazun) dan adil (taadul/Itidal). Ia selalu tidak mendewa-dewakan akal dan tidak terlalu tekstualis,” tutur Aang.

Selanjutnya dikenal dengan istilah Aswaja Sebagai Manhajul Fikr. Aswaja Sebagai Manhajul Fikr inilah yang digunakan sebagai kacamata atau metodologi dalam membendung radikalisme. (Syamsul Arifin)

Categories: Berita Utama

About Author