Bahtsul Masail Sebagai Forum Belajar

Bahtsul Masail Sebagai Forum Belajar

NU Jombang Online,
Bertempat di serambi masjid yang belum selesai pemugarannya, beralas karpet bermotif sajadah yang digelar melebar, sekumpulan anak muda dan beberapa orang tua berpeci hitam dan ada juga yang peci putih duduk sila berhalaqoh. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 Wib, tetapi belum ada informasi kegiatan akan dimulai. Namun sesaat kemudian, seorang lelaki berpeci dan bersarung, 40-an tahun dengan suara sedang mengumumkan bahwa, Bahtsul Masail akan dimulai setengah jam lagi. Berarti jam 09.30 kegiatan akan dimulai.

Rupanya masih ada beberapa orang yang ditunggu. Meskipun di serambi itu sudah berkumpul sekitar 50-an orang, tetapi rupanya ada beberapa orang yang berkepentingan terhadap kegiatan itu belum menampakkan diri.

Sisa dingin pagi yang disambut suhu hangat di pagi musim kemarau ini, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jombang sedang menggelar kegiatan rutin tiga bulanan, yaitu Bahtsul Masail (Diskusi Persoalan). Bahtsul masail dilakukan untuk menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan referensi dari buku-buku (kitab-kitab) yang ditulis oleh ulama-ulama (ilmuwan) Islam dalam bidang hukum (fiqh) dan teologi (aqidah), bahkan metafisika (tasawuf). Pengambilan rujukan (referensi) sangat ketat, karena jika masih ada pendapat (ijtihad) ulama yang sesuai dengan persoalan yang didiskusikan, maka sejauh mungkin dihindari untuk melakukan ijtihad sendiri dengan mengqiyaskan dg pendapat ulama tersebut.

Bahtsul masail yang biasa dilakukan di lingkungan Nahdlatul ULama dibagai menjadi beberapa pendekatan. Pertama, pendekatan waqi’iyah (peristiwa), yaitu menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bahtsul masail diharapkan bisa menjawab persoalan-persoalan kongkrit yang terjadi di masyarakat.

Kedua, pendekatan maudlu’iyah (tematik), yaitu menjawab persoalan yang terjadi di masyarakat tetapi dengan tema-tema tertentu. Misalnya, tentang perkawinan, tentang bank dan lain-lain, yang mungkin belum terjadi saat bahtsul masail dilakukan, atau sudah terjadi tetapi dibahas dalam satu tema khusus.

Yang ketiga, pendekatan qonuniyah (perundangan), yang menjawab persoalan-persoalan kenegaraan. Karena berkaitan dengan persoalan kenegaraan, maka tentu berkaitan dengan kebijakan-kebijakan politik yang dibuat oleh pengambil keputusan (decision maker). Karena merupakan kebijakan politik, maka akan berdampak luas kepada masyarakat. Sehingga bahtsul masail juga melihat dampak yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut.

Pada pagi itu, Ahad (12/10/2014) bahtsul masail diselenggarakan di serambi masjid Al Hikmah desa Sengon kecamatan Jombang Kota. Peserta yang tampak hadir utusan dari pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) dan pondok pesantren. Pagi itu, sebagaimana pada bahtsul masail sebelumnya, Rais Syuriah PCNU Jombang, KH Abd Nashir Fattah dan Wakil Rais, KH Wazir Ali, hadir di tengah-tengah peserta bahtsul masail, dan berfungsi sebagai pentashih (pemutus).

Bahtsul Masail yang pimpin oleh seorang moderator tersebut berjalan cukup baik, meskipun terkadang forum hanya dikuasai oleh beberapa orang saja, namun tim LBMNU yang menjadi perumus persoalan, bisa mengimbangi diksusi yang terjadi. Metode bahtsul masail yang digunakan oleh LBMNU Jombang memang memiliki titik kelemahan, dimana tim LBMNU Jombang yang bertugas mencari dalil rujukan, sering didebat kusir oleh peserta terutama perkaitan dengan pengertian teks, tidak pada substansi persoalan.

Pendekatan ini satu sisi menguntungkan, karena bahtsul masail bisa berjalan cepat, karena peserta dibantu oleh tim dalam pencarian dalil, namun disisi lain kelemahannya adalah seringkali peserta justru tidak mengajukan dalil baru, tetapi menanyakan pengertian dalil yang disampaikan oleh tim LBMNU.

Dalam bahtsul masail kali ini, persoalan-persoalan yang dibahas antara lain, tentang hukum menemukan ikan yang diternak di kolam-kolam kemudian diterjang banjir; tentang menyewakan harta masjid yang bukan wakaf untuk kemaslahatan; tentang kuburan campuran antara orang Islam dan non Islam dan; masaah yang ketiga tentang pembagian waris menurut KHI (Kompilasi Hukum Islam) tidak dibahas karena ada kesalahan dalam pertanyaan.

Menurut Kiyai Sholeh, ketua LBMNU Jombang, pagi itu merupakan bahtsul masail yang pesertanya paling banyak. “Tidak seperti pada bahtsu masail sebelumnya, antusias peserta cukup tinggi, hal ini bisa karena persoalan yang dibahas menarik atau memang karena ada kebutuhan dari peserta, yang juga berniat untuk belajar”, katanya.

Memang sebaiknya, bahtsul masail tidak saja dimaknai sebagai forum diskusi untuk menyelesaikan peraoalan-persoalan, terutama persoalan hukum (fiqh), tetapi juga perlu dimaknai sebagai forum belajar. Peserta bisa belajar dari yang lain, terutama dari kiyai-kiyai yang hadir dalam bahtsul masail. (mus)

Categories: Berita Utama

About Author